Sabtu, 11 April 2026

Virus Corona

Kasus Pembekuan Darah setelah Vaksinasi AstraZeneca kembali Ditemukan di Australia

Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZeneca Plc pada Selasa (13/4/2021).

Editor: Fitriana Andriyani
Courtesy / Kompas.com
Vaksin AstraZeneca - Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZeneca Plc pada Selasa (13/4/2021). 

TRIBUNAMBON.COM - Australia kembali melaporkan kasus pembekuan darah setelah vaksinasi AstraZeneca Plc pada Selasa (13/4/2021).

Meski demikian, Reuters melaporkan, tak ada peningkatan pembatalan jadwal vaksinasi.

Diketahui, pihak berwenang bekerja lebih keras untuk menyusun kampanye vaksinasi yang dinilai kurang rapi.

Pekan ini, Australia disebut membatalkan rencana untuk memvaksinasi hampir semua penduduknya pada akhir tahun.

Baca juga: Polemik Sinovac dan Syarat Umrah serta Haji yang Wajibkan Penggunaan Vaksin Bersertifikat WHO

Baca juga: Fatwa MUI: Swab Test dan Vaksinasi Covid-19 Tidak Batalkan Puasa

Keputusan ini diambil mengingat adanya laporan dari regulator obat Eropa yang menemukan kasus pembekuan darah yang langka di antara penerima dewasa dosis AstraZeneca yang diperkirakan memiliki hubungan.

Seorang pekerja medis menyusun dosis vaksin Oxford / AstraZeneca untuk melawan penyakit virus corona, yang dipasarkan dengan nama Covishield dan diproduksi di India, dalam jarum suntik selama vaksinasi para imam di Kiev pada 16 Maret 2021.
Seorang pekerja medis menyusun dosis vaksin Oxford / AstraZeneca untuk melawan penyakit virus corona, yang dipasarkan dengan nama Covishield dan diproduksi di India, dalam jarum suntik selama vaksinasi para imam di Kiev pada 16 Maret 2021. (Sergei SUPINSKY / AFP)

Hal ini mendorong pejabat Australia untuk merekomendasikan mereka yang berusia di bawah 50 tahun untuk menerima vaksin Pfizer Inc daripada suntikan AstraZeneca, sehingga program vaksinasi menjadi berantakan.

“Kami telah mengantisipasi potensi penurunan yang signifikan (dalam jumlah vaksinasi, tetapi itu) bukan yang kami lihat pada tahap ini,” ucap Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan kepada wartawan di Canberra.

Sementara itu, pihak berwenang mengatakan pihaknya tidak memiliki rencana untuk menambahkan vaksin satu dosis dari Johnson & Johnson ke dalam program vaksinasinya.

Sebab, Australia ingin menjauh dari pengadaan vaksin yang sedang ditinjau kemungkinan kaitannya dengan pembekuan darah.

Botol vaksin Johnson & Johnson Janssen Covid-19 dosis tunggal yang disiapkan oleh St. John's Well Child and Family Center dan Los Angeles County Federation of Labour and Immigrant pada 25 Maret 2021 di Los Angeles, California
Botol vaksin Johnson & Johnson Janssen Covid-19 dosis tunggal yang disiapkan oleh St. John's Well Child and Family Center dan Los Angeles County Federation of Labour and Immigrant pada 25 Maret 2021 di Los Angeles, California (Frederic J. BROWN / AFP)

Vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca menggunakan adenovirus, kelas virus flu biasa yang tidak berbahaya, untuk memasukkan protein virus corona ke dalam sel-sel tubuh dan memicu respons imun.

Kedua produk tersebut sedang ditinjau oleh regulator obat Eropa setelah menemukan kemungkinan adanya kaitan dengan pembekuan darah, meskipun dikatakan keuntungannya masih lebih besar daripada risikonya.

"Pemerintah tidak berniat untuk membeli vaksin adenovirus lebih lanjut saat ini," kata juru bicara kementerian kesehatan kepada Reuters.

Vaksinasi Australia Bergantung pada AstraZeneca

Upaya imunisasi Australia sangat bergantung pada vaksin AstraZeneca, dengan rencana untuk memproduksi 50 juta dosis di negara tersebut.

Perubahan kebijakan tersebut mendorong pihak berwenang pekan lalu untuk menggandakan pesanan Pfizer sebelumnya menjadi 40 juta tembakan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved