Breaking News:

Bom di Makassar

3 Warganya Jadi Korban Bom Bunuh Diri, Bupati; Tidak Ada Kaitan Dengan Agama Apapun

Kepada keluarga dan warga Maluku Tenggara, Hanubun pun menghimbau untuk tetap tenang tetap merawat persaudaraan antar sesama.

SANOVRA JR/SANOVRA JR
Petugas Kepolisian melakukan olah TKP ledakan di Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus atau Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021). Polisi menyatakan bom yang meledak tersebut merupakan bom bunuh diri. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Henrik Toatubun

LANGGUR, TRIBUNAMBON.COM – Bupati Maluku Tenggara, M Taher Hanubun, turut berduka atas perisitwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan yang juga mencederai tiga warganya.

Kepada keluarga dan warga Maluku Tenggara, Hanubun pun menghimbau untuk tetap tenang tetap merawat persaudaraan antar sesama.

"Peristiwa ini, sesungguhnya tidak ada kaitan sedikitpun dengan agama apa pun, karena semua agama mengajarkan Kebaikan, damai dan suka cita bukan kekerasan. Apalagi atas nama Agama," kata Hanubun dalam rilis yang diterima, Selasa (30/3/2021) pagi.

Dia juga meminta warga untuk mendoakan para korban agar diberikan kesembuhan.

"Mari kita sama-sama mendoakan kedua saudara kita dan saudara korban lainnya, semoga diberikan keselamatan dan kesembuhan, serta semua keluarga diberikan ketabahan," ucap Hanubun.

Hanubun pun memastikan akan mengunjungi korban yang kini masih berada di Makassar.

"Apabila Tuhan mengizinkan, saya akan mengunjungi korban dan keluarga di Makasar secepatnya," kata Hanubun.

Baca juga: Pelaku Bom Bunuh Diri di Makassar Tinggalkan Surat Wasiat: Pamit pada Orang Tua dan Akui Siap Mati

Baca juga: Terungkap Kegiatan Sehari-hari Pelaku Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar

Diberitakan sebelumnya, hingga Minggu sore, tercatat sebanyak 20 korban luka akibat ledakan tersebut.

Tiga korban diantaranya adalah warga Maluku Tenggara, yakni Valerina Selitubun, Adelina Selitubun dan Karina Dimayu, wanita blasteran Kei Ternate.

Valerina Selitubun adalah puteri semata wayang dari pasangan Thadeus Selitubun dan Maria Setitit yang juga mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Kota Daeng itu.

Sementara Adelina Selitubun adalah anak dari pasangan Arnolda Yampormase dan Ambrosius Selitubun (alm), yang pada waktu itu sedang mengatar ibunya pengobatan di Kota Makasar dan tinggal bersama saudaranya Valerina Selitubun.

Diketahui Karina Dimayu salah satu korban itu juga berdarah Kei, tapi kedua orang tuanya menetap di Ternate, Maluku Utara.

Karina merupakan anak dari pasangan Ancelina Tadubun dan Yunius Dimayu yang menghabiskan masa kecilnya hingga pendidikan menengah atas di Maluku Tenggara dan melanjutkan pendidikan tinggi di Makasar. (*)

Penulis: Henrik Toatubun
Editor: Fandi Wattimena
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved