Breaking News:

BBM Oktan Rendah

Dokter Spesialis Paru Sebut Pakai BBM Oktan Rendah Dapat Memicu Penyakit Mematikan

BBM oktan rendah akan membuat pembakaran di dalam mesin menjadi tidak sempurna sehingga akan menghasilkan gas yang beracun.

Adjeng Hatalea
dr.Vebiyanti Tentua,M.Sc,Sp.P saat diwawancarai di Studio TribunAmbon.com di Jalan Jendral Sudirman, Batu Merah, Sirimau, Ambon, Senin (9/3/2021) sore. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Adjeng Hatalea

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Oktan Rendah seperti premium tidak hanya merusak mesin kendaraan tetapi juga menyebabkan polusi udara sehingga menurunkan kualitas udara yang bersih kemudian dapat memicu timbulnya penyakit mematikan seperti kanker.

Seorang dokter spesialis paru di Ambon, dr.Vebiyanti Tentua,M.Sc,Sp.P menjelaskan, BBM oktan rendah akan membuat pembakaran di dalam mesin menjadi tidak sempurna sehingga akan menghasilkan gas yang beracun seperti Karbon monoksida, NO2, Sulphur Dioksida (SO2), dan Ozon serta Particulate matter (PM).

“Nah semuanya itu adalah gas-gas yang berbahaya yang dapat mencemari lingkungan dan berdampak pada saluran nafas,” terang dr. Vebiyanti saat diwawancarai di Studio TribunAmbon.com di Jalan Jendral Sudirman, Batu Merah, Sirimau, Ambon, Senin (9/3/2021) sore.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Massal, Kadis Pendidikan Kota Ambon menjadi yang Pertama

Baca juga: Rumah Aman Lindungi Korban Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Anak, Ambon Belum Punya

Menurutnya, particulate matter atau ukuran debu partikel yang kurang dari 2.5 mikron itu bisa masuk dalam saluran nafas bahkan mengendap di dalam kantung saluran napas.

“Bahkan tidak hanya mengendap  tetapi PM 2,5 ini juga dapat masuk ke dalam pembuluh darah yang kemudian akan memicu sesak nafas,” sambungnya.

Dia menambahkan, serangan dini dari kejadian tersebut, yakni asma atau sesak nafas.

Selain itu dapat menyebabkan infeksi paru akut.

Pada keadaan kronis , debu partikel yang sudah menumpuk, dan mengalir ke pembuluh darah dapat menyebabkan kelainan genetik yang akhirnya dapat memicu terjadinya kanker,” tambahnya.

Menurutnya, memang penyebab pasien dirawat dengan diagnosis di atas bukan berarti seluruhnya diakibatkan oleh penggunaan BBM Oktan Rendah saja, melainkan ada asap rokok dan polusi udara industri dan asap lainnya yang juga dapat menimbulkan gas beracun.

Namun, menurutnya, jika publik sudah tau dampak negatif dari penggunaan BBM Oktan rendah, maka sebaiknya dihentikan.

Harapannya, baik masyarakat maupun pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam menjaga dan melindungi lingkungan dengan memilih BBM yang ramah lingkungan dan tidak merusak kualitas udara.

“Sarannya kalau bisa harga BBM oktan tinggi itu dapat disesuaikan harganya dengan kemampuan daya beli masyarakat,” ujarnya. (*)

Penulis: Adjeng Hatalea
Editor: Salama Picalouhata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved