Pengelola Ambon War Cemetery Taman Terluas di Maluku Dialihkan dari Australia ke Inggris
Dalam catatan Tribun, inilah taman hijau paling terawat dan terluas di Kota Ambon, bahkan di timur Indonesia.
Penulis: Lukman Mukadar | Editor: Nur Thamsil Thahir
1. Biaya Pemeliharaan Taman Rp5 Juta Sebulan
AMBON CEMETERY - Yahya Harui, mandor pembersih Taman Makam Pahlawan Negara Persemakmuran (Commonwealth Cemetery Ambon Memorial) di Jl Sultan Hasanuddin, Tantui, Kelurahan Pandan Kasturi, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, Jumat 8/1/2021. (Tribun Ambon/lukman-mukADar)
Biaya yang dihabiskan setiap bulannya juga bias dibilang fantastis.
Lima juta perbulan hanya untuk ongkos perawatan taman, termasuk didalamnya biaya listrik bensin dan perawatan mesin.
“Untuk biaya perawatan taman makam ini anggarannya sekitar lima juta tiap bulan,”Jelas Yahya.
Menurut Yahya saat ini mereka digaji langsung oleh Pemerintah Inggris. Tak hanya itu Pemerintah Inggris juga terus menaikan gaji para cleaning service taman itu pada setiap tahun.
Sebesar Rp 200 ribu. Dan dinaikan bertepatan dengan peringatan "Anzac Day" yaitu peristiwa gugurnya tentara persemakmuran pada Perang Dunia I dan II di Ambon.
“Iya nanti tanggal satu April ini akan dinaikan juga,”ujarnya.
Seluruh peralatan yang digunakan untuk menunjang kerja mereka di taman tersebut semuanya diminta langsung kepada Pemerintah Inggris.
“Jadi katong (kita) minta alat-alat kerja, mesin, sekop dan lainnya itu semua kita minta dari inggris,”jelas Yahya.
Mesin pembersih menggunakan “sapu kipas portabel elektronik, produksi mutakhir.
Para pekerja mulai aktivitas Senin hingga Jumat.
Untuk membersihkan sampah organik, daun, tangkai dan dahan pohon, tiap hari mereka bekerja selama 8 jam.
Di bagian depan Taman terdapat Memorial Building Ambon.
Bangunan mirip halte bus, terbuat dari beton berkualitas tinggi dengan desain eksterior berkelas.
Di kedua sisi dindingnya terpampang lembaran tembaga berukuran sekira 3×2 meter persegi yang diatasnya terukir dengan huruf timbul.
Ini adalah nama tentara dan penerbang Australia yang gugur di tanah Maluku, Sulawesi dan Kepulauan sekitarnya pada saat Perang Dunia II, termasuk yang tidak diketahui dan ditemukan jenasahnya.
Setiap nama dilengkapi nomor prajurit, pangkat dan jabatan terakhir serta nama asal kesatuan.
Batu-batu nisan berukuran sebesar laptop dengan tinggi hanya beberapa sentimeter di atas tanah seolah tak terlihat diatas hamparan rumput hijau yang dipangkas rapih. Namun ketika melangkahkan kaki ke bagian tengah barulah batu-batu nisan itu tampak bertebaran dimana-mana.
Dari data yang terpampang, umumnya mereka berasal dari Angkatan Udara Australia, selain beberapa yang berasal dari kesatuan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Australia.