Jumat, 24 April 2026

Catatan Perjalanan Egy Massadiah

Doni Monardo; Jejak Kobra, Macan Tutul hingga Pelahlar

Tak kurang dari 50 personel lain tampak mengiringi Doni Monardo. Mereka terdiri atas aparat TNI/Polri wilayah Cilacap, petugas BPBD Kabupaten Cilacap,

Tribun Ambon/BNPB
Kepala BNPB Donny Monardo saat naik perahu Segara Anakan, Cilacap – Jawa Tengah, Jumat (4/12/2020). 

“Harus benar-benar dijaga hutan ini. Sebab, selain fungsi ekologis, daerah ini juga tempat berlatih yang sangat bagus bagi prajurit TNI kita. Kalau sampai rusak, wah... di mana lagi prajurit kita bisa berlatih di tempat sehebat ini,” tambah jenderal bintang tiga lulusan Akmil 1985 itu.

Sejurus kemudian, Doni bertanya lagi, “Macan tutulnya masih ada?”

“Masih, pak!. Kami juga baru-baru ini mendapatkan rekaman foto dan videonya melalui kamera trap” kata anggota BKSDA Jawa Tengah yang lainnya. Hasil pemantauan mereka, juga masih ditemukan beberapa satwa liar seperti babi hutan, kucing hutan dan lain sebagainya.

BNPB Dukung Konservasi

Matahari sedikit condong ke barat, ketika Doni Monardo dan rombongan meninggalkan hutan Cagar Alam Nusakambangan Barat. Dalam perjalanan kembali ke Dermaga Wijayapura, rombongan singgah di kantor Kecamatan Kampung Laut.

Kecamatan ini terletak di perairan Segara Anakan, terdiri atas empat desa, yaitu Panikel, Ujung Gagak, Ujung Alang, dan Klaces. Keempat desa ini memiliki karakteristik berbeda-beda. Panikel dan Ujung Gagak sekarang daratannya sudah menyatu dengan Pulau Jawa. Mata pencaharian warga Desa Panikel sebagian besar bertani, sedangkan penduduk Ujung Gagak adalah nelayan di Segara Anakan dan laut lepas (Samudera Hindia).

Desa yang letaknya terpisah dari Pulau Jawa oleh Segara Anakan adalah Desa Klaces dan Ujung Alang. Desa Klaces adalah desa paling baru di kecamatan ini. Penduduknya masih sedikit yaitu kurang dari 300 kepala keluarga. Meskipun baru tetapi di desa inilah pusat administrasi Kecamatan Kampung Laut.

Nusakambangan selama ini hanya dikenal sebagai pulau penjara yang tertutup untuk umum. Orang yang mendengar nama pulau ini sudah pasti membayangkan suatu penjara yang dihuni narapidana kelas kakap. Padahal ada juga penduduk dan aneka kekayaan hayati hutan tropis. Salah satu hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa di Jawa hanya ada di pulau ini.

Di pulau ini terdapat beberapa kawasan konservasi yang telah ditetapkan sejak jaman Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937, yaitu Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat (625 ha), CA Nusakambangan Timur (277 ha), CA Karang Bolong (0,5 ha), dan CA Wijayakusumah (1 ha) (Staatblaad van Nederlandsch-Indie, 1937).

Siang itu, Camat Kampung Laut, Asep Kuncoro menghindangkan makan siang tradisional khas Kampung Laut. Lengkap dengan singkong, pisang dan buah kelapa muda. Asep berkali-kali menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan dan kepedulian pejabat pusat. “Setahu saya, pejabat pusat baru Bapak Kepala BNPB yang berkunjung ke kampung kami,” katanya.

Doni menanggapi, pihaknya akan menyiapkan program konservasi alam, lebih khusus lagi hutan bakau. Selain bagus untuk mencegah intrusi air laut, juga bermanfaat bagi pondasi alam. Pengerjaannya melibatkan penduduk setempat, sehingga ada dampak ekonomi bagi masyarakat.

Pulau Nusakambangan menjadi benteng bagi wilayah Cilacap ketika terjadi gempabumi yang memicu tsunami Pangandaran 2006 silam. Berdasarkan hasil catatan ilmiah dari berbagai pakar, gelombang tsunami yang menghantam wilayah Nusakambangan waktu itu mencapai ketinggian antara 15 sampai 22 meter.

Melihat adanya potensi ancaman gempabumi dan tsunami tersebut, Doni meminta seluruh komponen pemerintah daerah Cilacap dapat membuat kebijakan yang merujuk kepada pelestarian alam dan lingkungan sebagai upaya mitigasi bencana berbasis ekosistem.

"Ketika kawasan-kawasan konservasi ini beralih fungsi, ini yang kita khawatirkan akan bisa menimbulkan persoalan bagi keselamatan warga Cilacap. Karena wilayah Cilacap ternyata penduduknya sangat padat,” jelas Doni.

Di samping menjaga kawasan konservasi, Doni juga menaruh perhatian agar kemudian program pemulihan ekosistem sebagai upaya mitigasi bencana juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Apabila kawasan konservasi alam di Nusakambangan dapat dijaga dengan baik, maka hal itu dapat menjadi tempat penelitian tentang keseimbangan alam dan pemberdayaan ekonomi.

Vegetasi Garis Pantai

Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari melakukan paparan tentang kejadian tsunami 2006 serta gambaran ke depan. Muhari menyampaikan bahwa keberadaan ekosistem di sepanjang garis pantai di Selatan Jawa sangat penting untuk mitigasi potensi bencana tsunami. Selain dapat mengurangi dampak kerusakan, juga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa.

"Dengan adanya pembatas ekosistem seperti vegetasi tanaman kuat di sepanjang garis pantai, maka energi gelombang tsunami dapat direduksi. Menurut hasil penelitian pasca tsunami Pangandaran 2006 silam, tim menemukan bukti sisa kerusakan ranting pohon yang diduga bekas hantaman gelombang tsunami pada ketinggian 15 hingga 22 meter. Kendati banyak pohon rusak, namun energi gelombang diyakini menjadi melemah," papar Muhari.

Belajar dari tsunami 2006, menurut Muhari memang masih ada dua potensi besar yang dapat memicu munculnya tsunami di wilayah Selatan Jawa di masa depan, khususnya yang dapat berdampak pada wilayah Kabupaten Cilacap.

Potensi pertama adalah zona patahan dari wilayah selatan Banten hingga Pangandaran, yang dapat berpotensi memicu gempa dasar laut dengan kekuatan hingga magnitudo 8,8. Apabila periode gempa dasar laut tersebut berlangsung hingga 30-60 detik, maka hal itu dapat dipastikan akan memicu terjadinya gelombang tsunami dengan ketinggian hingga 5 meter atau lebih.

Kemudian potensi kedua adalah gempa dasar laut dengan kekuatan hingga magnitudo 8,9 dengan episentrum di wilayah selatan Yogyakarta hingga Pacitan. Maka daerah Kulonprogo, Kebumen, Purworejo hingga Cilacap dapat terdampak gelombang tsunami.

“Yang sebelah barat di selatan Banten itu 8,8 (magnitudo), yang di sebelah timur ini (magnitudonya) 8,9,” katanya.

Apabila pelepasan energi dari kedua titik tersebut terjadi bersamaan, maka anomalinya dapat lebih besar lagi menjadi magnitudo 9,1 seperti yang pernah terjadi di Aceh pada Desember 2004. (*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved