Minggu, 19 April 2026

Cerita Horor Aksi Pria Nekat Mengubur Diri Alias Topo Pendem, Didatangi Sosok Ini hingga Bola Api

Inilah cerita horor pria nekat mengubur diri alias topo pendem, didatangi sosok ini hingga bola api

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
TribunJateng/Suharno
Sutarto warga Kebakkramat topo pendem digoda makhluk halus 

Aksi topo pendem ini dilakukan karena dirinya ingin berdoa supaya keluarganya, yakni anak dan cucunya dapat hidup bahagia dan sejahtera.

Ribuan Ikan Terdampar di Pantai, Beredar Isu Pertanda Tsunami, Warga Ambon Mengungsi, Ini Kata BMKG

"Tujuan saya tidak cari ilmu, tetapi hanya ingin berdoa supaya anak cucu dapat hidup bahagia dan sejahtera," ujar Sutarto, Rabu (10/12/2014).

Kakek dua anak dan tiga cucu ini menuturkan dirinya membuat Kuburan sedalam dua meter.

Di dalam kuburan dilapisi papan sepanjang 1,5 meter untuk semedi dan setengah meter bagian atas ditimbun tanah. Adapun dalamnya 125 centimeter atau 1,25 meter

Namun di pinggir liang kubur ini diberi pralon yang fungsinya sebagai ventilasi udara dan untuk penyuplai telur dan minuman.

Aksi topo pendem dia lakukan mulai Kamis (4/12/2014) malam usai Maghrib atau pada malam Jumat Pon, dan menyudahi pertapaannya pada Selasa (9/12/2014) malam.

"Sebenarnya saya ingin delapan hari delapan malam, tetapi karena anak saya sama tetangga saya ingin supaya saya keluar pada hari kelima takutnya saya lemas di dalam," paparnya.

Pada saat pertapaannya, Sunarto mengaku dirinya sempat digoda beberapa mahluk halus seperti banaspati (bola api) hingga tengkorak berjalan.

Namun, dirinya juga mengatakan sempat didatangi juga oleh Sunan Lawu.

"Sunan Lawu yang berpakaian serba putih juga datang dan beliau bilang kalau saya nantinya dapat mengayomi desa ini (Desa Kebak), tinggal saya mau atau tidak," tandasnya.

Ritual topo pendhem yang menggegerkan warga tersebut, bukan kali pertama dilakukan Sutarto.

Ia mengaku pernah melakukan hal yang sama belasan tahun lalu. Namun saat itu dia hanya mengubur dirinya selama 3 hari di pekarangan yang ada di samping rumah.

Lalu apa yang dia lakukan saat berada di dalam tanah?

"Saat melakukan ritual itu, saya kadang duduk kalau capek atau kadang juga selonjor. Di dalam liang rasanya panas dan sumuk (gerah). Tapi harus saya lakoni (lakukan) demi mendoakan anak dan cucu, biar diberi keselamatan dan kebahagiaan," ujar Sutarto.

Meski telah sukses 2 kali melakukan topo ngluweng dan sejumlah ritual lainnya, Dia tak menganjurkan pada siapa pun termasuk keluarganya atau tetangganya untuk meniru aksinya tersebut. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved