Jumat, 1 Mei 2026

Menyapa Nusantara

BULOG dan Masa Depan Industri Padi Indonesia

Prime mover berarti penggerak utama, katalis yang mampu mengubah wajah industri perberasan dari hulu sampai hilir, bukan hanya operator logistik

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
Antara/ANTARA/HO-Perum Bulog Sumatera Utara
Wakil Direktur Utama Perum Bulog Mayjen (Purn) TNI Marga Taufik melakukan pengecekan stok beras di gudang Bulog Sumatera Utara di Medan, Sumut, Selasa (23/12/2025). 

Bila seluruh produk ikutan ini dimonetisasi, ketergantungan pada harga beras sebagai satu-satunya sumber pendapatan berkurang. Petani memperoleh sharing value yang lebih adil, industri menjadi lebih efisien, dan konsumen tidak terus-menerus dibayangi ketidakstabilan.

BULOG, dengan jejaring dan kapasitasnya, dapat menjadi orkestrator model ini. Tidak berarti mengambil alih semua peran pasar, tetapi memfasilitasi ekosistem. Misalnya, BULOG dapat memimpin pembentukan klaster industri padi berbasis wilayah, menghubungkan petani, penggilingan, industri pengolahan sekam dan bekatul, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam satu rantai nilai.

Insentif fiskal dan akses kredit berbunga ringan untuk agroindustri padi perlu didorong pemerintah. Dengan cara ini, agribisnis padi tidak hanya hidup di atas kertas, tetapi menjadi mesin ekonomi daerah yang membuka lapangan kerja, meningkatkan PAD, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Frekuensi Berpikir

Namun, keberhasilan ini tidak mungkin terjadi tanpa keselarasan visi. “Frekuensi berpikir” antara pemerintah, dunia usaha, petani, asosiasi profesi, akademisi, dan organisasi petani harus satu arah: memperkuat nilai tambah, bukan sekadar memperbesar volume.

Asosiasi seperti Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dapat memainkan peran sebagai mediator pengetahuan. Sementara itu, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dewan Tani, hingga komunitas petani di tingkat akar rumput perlu berada dalam satu harmoni, bukan dalam kecurigaan.

Di titik inilah nilai budaya bangsa seperti gotong royong dan “sauyunan” menemukan relevansi modern. Yang besar melindungi yang kecil, yang kuat merangkul yang lemah, demi ekosistem yang berkelanjutan.

Contoh konkret sebenarnya sudah ada. Inisiatif PT Lunafa Pangan Sejahtera di Tenjolaya, Sukabumi, yang membangun fasilitas pengeringan dan pemrosesan gabah modern di atas lahan sekitar satu hektare, menunjukkan bagaimana teknologi dapat menghadirkan nilai tambah nyata bagi petani.

Dengan kapasitas mesin dua ton per jam yang didatangkan dari Vietnam, proses pascapanen menjadi lebih efisien, kehilangan hasil dapat ditekan, kualitas meningkat, dan posisi tawar petani membaik.

Jika model seperti ini diperbanyak dengan kemitraan sejajar, BULOG dapat menjadi jangkar kolaborasi, bukan sekadar pembeli atau penyangga stok.

Tentu, transformasi ini membutuhkan keberanian kebijakan. Pemerintah perlu memberi ruang melalui keringanan pajak, penyederhanaan perizinan, hingga kredit berbunga rendah bagi pelaku agroindustri padi.

Namun  kebijakan saja tidak cukup. Diperlukan disiplin etika kolektif agar industri tidak jatuh ke praktik yang merugikan petani dan konsumen. Transparansi rantai nilai, standardisasi kualitas, dan digitalisasi informasi harga akan membantu menumbuhkan kepercayaan.

BULOG dapat menjadi pusat data dan integrator informasi untuk memperkecil asimetri pengetahuan di pasar.

Ke depan, menjadikan BULOG sebagai prime mover industri perberasan bukan hanya proyek teknokratis. Ini adalah pilihan strategis bangsa untuk memastikan bahwa sektor pangan menjadi pilar kesejahteraan, bukan sumber kerentanan.

Dengan menggeser orientasi dari sekadar menjaga pasokan ke membangun ekosistem agribisnis padi yang modern, inklusif, dan bernilai tambah, Indonesia bergerak menuju ketahanan pangan yang lebih bermartabat.

Saat mesin perubahan itu digerakkan dengan sinergi, maka industri perberasan bukan lagi sekadar urusan antara padi dan beras, tetapi tentang masa depan ekonomi rakyat yang lebih adil dan berdaya.

*) Entang Sastraatmadja adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat.


(Antara/ Entang Sastraatmadja/ 26 Desember 2025)

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved