Kamis, 7 Mei 2026

Menyapa Nusantara

Belajar dari Ibu Oki Merefleksikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Di warungnya yang berlokasi di Nusa Dua, Minggu (21/12), Maryawati menunjukkan perannya sebagai ibu di era modern

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
Antara/Abdu Faisal
Pengusaha perempuan asal Gianyar Bali, Ni Luh Sri Maryawati, menjalankan bisnis Warung Nasi Ayam Ibu Oki di Nusa Dua saat ditemui di Bali, Minggu (21/12/2025). 

TRIBUNAMBON.COM - Hari Ibu sering kali dirayakan sebagai bentuk penghormatan simbolis, tapi bagi Ni Luh Sri Maryawati alias Ibu Oki, pemilik Warung Nasi Ayam Ibu Oki, momen ini adalah cermin dari tanggung jawab nyata perempuan dalam menjaga masa depan melalui kemandirian ekonomi.

Di warungnya yang berlokasi di Nusa Dua, Minggu (21/12), Maryawati menunjukkan perannya sebagai ibu di era modern yang bisa meluas hingga ke garis depan penggerak ekonomi melalui kemandirian usaha yang berdampak bagi masyarakat luas.

Antrean panjang wisatawan dan warga lokal sudah terlihat di depan warung Ibu Oki sejak pukul 07.00 WITA. Mereka menanti seporsi nasi campur ayam dengan cita rasa Bali yang terdiri dari nasi putih, sayur lawar kacang panjang, ayam betutu, ayam suwir, ayam goreng khas Bali, sate lilit, dan sambal matah.

Bagi perempuan asal Gianyar itu, melihat pelanggan menghabiskan makanannya adalah bentuk apresiasi paling jujur terhadap dedikasinya di balik dapur.

"Momen mengharukan itu saat mereka makan, terus yang di piring itu sampai habis," kata Maryawati. Kepuasan pelanggan baginya merupakan hasil dari pola manajemen produksi yang disiplin dan bervisi jangka panjang.

Konsistensi dan Inovasi

Konsistensi layanan di tengah lonjakan pembeli menuntut inovasi pada manajemen produksi. Dalam sejarah perjalanan bisnisnya, Maryawati sempat mengoperasikan dapur pusat di kawasan Sunset Road untuk memastikan operasional cabang-cabang lainnya tetap stabil.

"Dulu ada dapur juga di Sunset Road. Di situ kita bikin dapur untuk cabang-cabang yang lain," jelasnya.

Langkah membuat dapur terpisah dari warung diambil agar arus pesanan daring tidak mengganggu kenyamanan pelanggan yang makan di tempat, inilah bagian dari strategi menjaga konsistensi layanan yang diterapkan oleh perempuan kelahiran tahun 1977 itu.

Selain itu, sistem produksi menu makanan mengandalkan ketangkasan sumber daya manusia secara langsung, alih-alih kecanggihan mesin. Maryawati menegaskan bahwa kecanggihan operasionalnya bukan pada mesin, melainkan pada kemampuan alami timnya.

"Selama ini kami melayani customer makan di tempat sama online-online secara langsung, kami masih bisa. Kepegang. Karena dapurnya cukup canggih. Orangnya maksudnya ya. Orangnya," kata Maryawati.

Pengembangan kapasitas manusia ini sejalan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), di mana kecakapan sumber daya manusia menjadi penentu utama dalam mengolah bahan baku produksi.

Kecakapan tim dapur Ibu Oki paling teruji saat mengolah ayam petelur merah yang sudah tidak produktif atau ayam afkir. Ayam ini berasal dari peternakan yang siklus bertelurnya sudah selesai.

Secara industri, jenis ayam ini sering dikesampingkan untuk memasak daging karena memiliki serat otot yang sangat liat dan aroma tajam saat direbus biasa.

"Ini adalah ayam petelur yang sudah tidak produktif. Umurnya pun sudah lama. Kalau dimasaknya pun dia butuh waktu berjam-jam," kata Maryawati menjelaskan tantangan tim dapurnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved