Rabu, 20 Mei 2026

Menyapa Nusantara

Masyarakat Yapen di Papua yang Menitipkan Harapan pada Kakao

Berkat kakao di kebun-kebun kecil, masyarakat lokal mulai melihat bahwa kampung mereka memiliki nilai yang dicari dunia.

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
Istimewa/ANTARA/HO-Billy Mambrasar
Di Kampung Konti Unai, terdapat sekitar 200 hektare lahan kakao yang dikelola kurang lebih 150 petani Orang Asli Papua. Jika digabungkan dengan sejumlah kampung lain di Kepulauan Yapen, total luas lahan kakao diperkirakan mencapai sekitar 900 hektare. 

TRIBUNAMBON.COM - Kisah tentang kakao Yapen sesungguhnya bukan sekadar berita ekonomi, melainkan cerita tentang kebangkitan kepercayaan diri sebuah wilayah di Papua yang barangkali tidak dikenal oleh banyak orang.

Berkat kakao di kebun-kebun kecil, masyarakat lokal mulai melihat bahwa kampung mereka memiliki nilai yang dicari dunia.

Bahkan, di saat banyak daerah masih bergantung pada transfer anggaran dan aktivitas ekonomi konsumtif, Yapen mulai memperlihatkan arah berbeda bahwa pembangunan juga dapat tumbuh dari hasil bumi yang dikelola secara serius, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat.

Sementara di banyak kampung di Papua, masa depan sering tumbuh dari hal-hal yang sederhana. Dari tanah yang subur, tangan petani yang tekun, dan tanaman yang selama bertahun-tahun hidup, tanpa banyak sorotan.

Di tengah hutan tropis dan bentang alam Kepulauan Yapen yang tenang, faktanya kakao perlahan kembali menemukan maknanya bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan harapan tentang bagaimana sebuah daerah bisa berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, sekaligus peneliti kebijakan ekonomi di Politeknik Negeri Batam Billy Mambrasar, bersama Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roy Palunga menyaksikan sendiri bagaimana Kampung Konti Unai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, mulai bangkit dari kakao.

Keduanya berkunjung untuk menyaksikan bagaimana masyarakat membangun daerahnya melalui pengembangan kakao sebagai komoditas unggulan daerah.

Dari kampung itu, sebanyak tiga kilogram sampel kakao kemudian dikumpulkan untuk dikirimkan kepada tiga perusahaan calon pembeli asal Eropa.

Sampel tersebut dibawa ke Jakarta untuk menjalani studi lanjutan, sebelum difinalisasi dalam bentuk kerja sama pembelian kakao bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen.

Langkah kecil itu sebenarnya menyimpan pesan besar. Selama ini, Papua sering dibicarakan dalam konteks sumber daya alam skala besar, seperti tambang, kayu, atau energi.

Padahal di tingkat kampung, terdapat potensi ekonomi rakyat yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari dan memiliki dampak sosial yang luas. Kakao menjadi salah satu contohnya.

Produk unggulan

Billy Mambrasar menjelaskan bahwa pengembangan komoditas unggulan daerah, seperti kakao, sejalan dengan Export Base Theory yang diperkenalkan ekonom Douglas North.

Dalam teori tersebut, daerah yang mampu menghasilkan dan menjual produk unggulan ke luar daerah maupun pasar internasional akan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat pendapatan asli daerah.

Papua memerlukan hal-hal demikian. Mengingat selama bertahun-tahun, tantangan pembangunan di Papua tidak hanya soal keterbatasan infrastruktur, tetapi juga bagaimana menciptakan ekonomi lokal yang benar-benar hidup dan mampu memberi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh secara mandiri.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved