News
4 Juta Anak Indonesia Putus Sekolah, Ini Solusi Menteri Sosial
Saifullah Yusuf menyebut lebih dari 4 juta anak berisiko putus sekolah, sehingga negara perlu intervensi hingga level keluarga.
Ringkasan Berita:
- Saifullah Yusuf menyebut lebih dari 4 juta anak berisiko putus sekolah, sehingga negara perlu intervensi hingga level keluarga.
- Program sekolah rakyat didorong sebagai solusi untuk menjangkau kelompok rentan dan memutus rantai kemiskinan.
- Pemerintah menekankan gotong royong dan kolaborasi lintas sektor karena keterbatasan anggaran.
TRIBUNAMBON.COM- Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mnegungkapkan bahwa negara harus hadir menyeluruh hingga ke level keluarga untuk mengatasi persoalan anak putus sekolah di Indonesia.
Hal ini disampaikannya menyusul data yang menunjukkan lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah.
Kondisi tersebut mencerminkan masih lebarnya kesenjangan akses pendidikan di Tanah Air.
Baca juga: Program MBG Jadi Motor Ekonomi, Kampus Didorong Bangun SPPG Mandiri
Baca juga: 11 Wilayah Perairan di Maluku Potensi Gelombang Sedang Capai 2.5 Meter
“Sekolah rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya,” ujar Gus Ipul dalam forum Belajaraya dengan Teman 2026 di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi yang selama ini menjadi akar persoalan pendidikan.
Ia juga menyoroti masih banyak anak yang belum terjangkau sistem pendidikan nasional.
“Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini invisible people dan belum tersentuh program,” katanya.
Untuk itu, pemerintah mendorong program sekolah rakyat sebagai solusi menjangkau kelompok paling rentan sekaligus mengangkat akses pendidikan dari lapisan terbawah.
Gus Ipul menegaskan, upaya tersebut harus dilakukan dengan semangat gotong royong, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Gotong royong menjadi keharusan agar kebijakan benar-benar dirasakan hingga ke masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menilai keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar.
“Lingkungan yang bersih dan sosial yang nyaman menjadi kunci keberhasilan belajar,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyoroti pentingnya peran madrasah dan pesantren dalam membangun karakter bangsa.
Menurutnya, lembaga pendidikan keagamaan telah lama menjadi contoh nyata praktik gotong royong, dengan sekitar 95 persen dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
“Madrasah dan pesantren tetap bertahan dengan kekuatan komunitas, meski memiliki keterbatasan,” ungkapnya.
Pemerintah berharap kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat dapat memperkuat ekosistem pendidikan serta mempersempit kesenjangan akses di Indonesia. (*)
Berita ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: https://www.tribunnews.com/kilas-kementerian/7824555/4-juta-anak-putus-sekolah-gus-ipul-dorong-gotong-royong-lewat-program-sekolah-rakyat
| Program MBG Jadi Motor Ekonomi, Kampus Didorong Bangun SPPG Mandiri |
|
|---|
| Wamen PKP RI Fahri Hamzah Sebut Arah Ekonomi Prabowo Kerap Disalahpahami |
|
|---|
| Kawal Haji, Aplikasi Wajib Diunduh Sebelum Berangkat ke Baitullah, Ini Fungsinya |
|
|---|
| Dalam Waktu Dekat, Presiden Prabowo Subianto Bakal Rombak Kabinet? |
|
|---|
| Presiden Prabowo Temui Putin di Rusia, Siap Suplai Minyak dan LPG ke Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Sekolah-rakyat-baru-73.jpg)