Maluku Terkini
Gubernur Maluku dan Menteri Agama Serukan Perdamaian Saat Temu Tokoh Lintas Agama
Imbauan ini disampaikan dalam Temu Tokoh Lintas Agama yang digelar di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku
Penulis: Novanda Halirat | Editor: Fandi Wattimena
Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa minta perkuat toleransi antar umat agama dalam kehidupan masyarakat.
Dialog adalah salah satu cara merawat toleransi sekaligus jalan penyelesaian masalah.
Hal itu diungkapkan Lewerissa dalam sambutan yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Maluku Kasrul Selang dihadapan Tokoh Lintas Agama di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku, Jumat, (17/1/2026).
Kegiatan bertemakan Ekoteologi dan Kurikulum Cinta itu dihadiri Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, anggota DPD RI Nono Sampono, Rektor UIN A.M. Sangadji Ambon Dr. Abidin Wakano, Rektor IAKN Ambon Prof. Yance Z. Rumahuru, Kepala Kanwil Kementerian Agama Maluku H. Yamin, serta para tokoh agama.
“Meski masing-masing kita berbeda-beda, namun se-yogyanya hati dan batin kita berada dalam kesatuan yang utuh,” ujarnya dalam rilisan yang di Terima TribunAmbon.com, Sabtu (17/1/2026).
Baca juga: Sampah Plastik Kepung Pantai Tikus Bula, Warga Khawatir Dampak Lingkungan
Baca juga: Kepatuhan Wajib Pajak di Kabupaten Buru Dinilai Baik, DJP Dorong Aktivasi Aplikasi Coretax
Menurut Gubernur, dialog dan komunikasi memiliki peran penting dalam mengurangi mispersepsi antarumat beragama.
“Semoga budaya saling bertemu dan mendengar di antara kita makin tumbuh dengan baik, karena ada kalanya kita berbicara dan ada kalanya kita mendengar,” tungkasnya.
Ia menambahkan, mendengar merupakan bagian dari penyempurnaan kepribadian.
“Oleh karena itu, saya sungguh gembira bahwa malam hari ini kita mulai untuk mengukuhkan dan mengembangkan budaya yang baik, saling bertemu dan mendengar, saling memberi, dan saling berbagi,” katanya.
Dimomentum ini, disampaikannya berbagai kekayaan Maluku mulai dari agama, budaya, suku hingga adat istiadat.
Menurutnya, masyarakat Maluku sejak lama memiliki nilai luhur Pela gandong, hidup orang basudara sebagai fondasi persaudaraan dan perdamaian.
“Nilai kearifan lokal inilah yang terus kami rawat dan kembangkan sebagai modal sosial dalam membangun Maluku yang rukun, damai, dan harmonis,” jelasnya.
Ia menilai peran tokoh agama sangat sentral sebagai penjaga moral, penyejuk umat, sekaligus agen perdamaian.
Pemerintah Provinsi Maluku juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama serta seluruh pihak yang telah menggagas dan melaksanakan kegiatan ini.
Sebagai wadah untuk memperkuat dialog antarumat beragama, membangun rasa saling percaya, serta merawat kerukunan dan kedamaian di daerah.
Gubernur berharap pertemuan ini melahirkan komitmen bersama untuk mencegah konflik sosial dan menjadi teladan bagi generasi muda.
“Melalui pertemuan ini, saya berharap lahir pemikiran-pemikiran yang konstruktif serta komitmen bersama untuk memperkokoh toleransi dan kerukunan antarumat beragama, mencegah potensi konflik sosial sejak dini, serta menjadi teladan persaudaraan sejati bagi generasi muda Maluku,” harapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan citra Ambon sebagai kota perdamaian.
“Jangan datang ke Ambon lagi untuk mencari sejarah tentang konflik tapi belajar tentang perdamaian di Ambon.” tuturnya.
Ia mengapresiasi suasana dialog yang berlangsung terbuka dan penuh kedamaian.
“Pada malam ini, para tokoh lintas agama hadir dan kita berdiskusi secara terbuka dan alhamdulillah kita berada pada suasana kedamaian. Sangat luar biasa. Ambon adalah laboratorium untuk perdamaian. Siapa yang ingin belajar perdamaian, datanglah ke Ambon,” tungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Nasaruddin-pem.jpg)