SBT Hari Ini
93 Persen Sagu SBT Tak Tergarap, Ancaman Potensi Mati Sia-sia Mengintai
Dari ratusan ribu pohon sagu yang telah memasuki fase masa tebang, sebagian besar belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Ode Alfin Risanto
Ringkasan Berita:
- Potensi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur sangat besar, namun sekitar 93 persen pohon sagu yang telah memasuki masa tebang belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi.
- Hasil studi kelayakan Unpatti mengungkap, sagu yang tidak dimanfaatkan akan mati dalam waktu sekitar 18 bulan.
- Pemerintah daerah didorong segera mengembangkan hilirisasi sagu agar menjadi komoditas unggulan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah.
Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Potensi sagu yang melimpah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Dari ratusan ribu pohon sagu yang telah memasuki fase masa tebang, sebagian besar belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Fakta ini terungkap dalam Diseminasi Studi Kelayakan Hilirisasi Sagu yang digelar Pemerintah Kabupaten SBT bersama Tim Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon di Hotel Surya, Kota Bula, Senin (12/1/2025).
Baca juga: DLHP Ambon Dorong Tempat Sampah Liar di Arbes Jadi Sentra UMKM
Baca juga: Kontrol Disiplin Pegawai, Wabup Malteng Sidak Puskesmas Masohi
Kajian akademik tersebut justru mengungkap lemahnya pengelolaan sagu di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung sagu terbesar di Maluku.
Ketua Tim Studi Kelayakan Hilirisasi Sagu Unpatti, Dr. Raja Milyaniza Sari, menyampaikan bahwa mayoritas pohon sagu di SBT saat ini telah berada pada fase masak tebang.
Namun, tanpa pengelolaan yang jelas, potensi tersebut justru terancam hilang dalam waktu relatif singkat.
“Kalau sagu tidak dimanfaatkan, 18 bulan kemudian pohonnya mati. Ini sering tidak terlihat karena lokasinya di tengah hutan. Tapi jika dekat permukiman, akan tampak banyak pohon sagu mati karena tidak dikelola,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan berdasarkan hasil kajiannya, sekitar 93 persen pohon sagu fase masa tebang di SBT belum tersentuh pengelolaan.
Kondisi ini dinilai sebagai pemborosan sumber daya alam yang seharusnya mampu menjadi penggerak ekonomi lokal dan sumber pendapatan daerah.
“Ini potensi yang terbuang sia-sia. Kalau dikelola dengan baik, dampaknya sangat luar biasa, baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun bagi Pemkab SBT,” jelasnya.
Pihaknya mengakui, jika kondisi ini terus dibiarkan, SBT dinilai berisiko kehilangan peluang besar menjadikan sagu sebagai komoditas unggulan berbasis hilirisasi yang berkelanjutan.(*)
| Angkat Identitas Daerah, PDI Perjuangan SBT Dorong Makanan Khas Sagu Dipatenkan |
|
|---|
| Peringati Hari Kartini, PDI Perjuangan SBT Dorong Hilirisasi Sagu Lewat Lomba Gulung Pepeda |
|
|---|
| SBT Dapat 200 Unit BSPS, Pemda Diminta Aktif Usulkan Data Warga |
|
|---|
| Program BSPS di Negeri Hote SBT Ditolak Kades, Tim Pendamping Pilih Alihkan ke Desa Lain |
|
|---|
| Efisiensi Rp117 Miliar, Bupati SBT Akui Banyak Program Pembangunan Tertunda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Sgau-lagi.jpg)