Minggu, 26 April 2026

SBT Hari Ini

93 Persen Sagu SBT Tak Tergarap, Ancaman Potensi Mati Sia-sia Mengintai

Dari ratusan ribu pohon sagu yang telah memasuki fase masa tebang, sebagian besar belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Ode Alfin Risanto
TribunAmbon.com/Haliyudin Ulima
HILIRISASI SAGU - Kegiatan Diseminasi Studi Kelayakan Program Hilirisasi Sagu Kabupaten SBT yang digelar di Surya Hotel Bula, Senin (12/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Potensi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur sangat besar, namun sekitar 93 persen pohon sagu yang telah memasuki masa tebang belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi.
  • Hasil studi kelayakan Unpatti mengungkap, sagu yang tidak dimanfaatkan akan mati dalam waktu sekitar 18 bulan.
  • Pemerintah daerah didorong segera mengembangkan hilirisasi sagu agar menjadi komoditas unggulan berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah.

Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Potensi sagu yang melimpah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Dari ratusan ribu pohon sagu yang telah memasuki fase masa tebang, sebagian besar belum dikelola dan berisiko mati tanpa memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Fakta ini terungkap dalam Diseminasi Studi Kelayakan Hilirisasi Sagu yang digelar Pemerintah Kabupaten SBT bersama Tim Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon di Hotel Surya, Kota Bula, Senin (12/1/2025). 

Baca juga: DLHP Ambon Dorong Tempat Sampah Liar di Arbes Jadi Sentra UMKM

Baca juga: Kontrol Disiplin Pegawai, Wabup Malteng Sidak Puskesmas Masohi

Kajian akademik tersebut justru mengungkap lemahnya pengelolaan sagu di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung sagu terbesar di Maluku.

Ketua Tim Studi Kelayakan Hilirisasi Sagu Unpatti, Dr. Raja Milyaniza Sari, menyampaikan bahwa mayoritas pohon sagu di SBT saat ini telah berada pada fase masak tebang. 

Namun, tanpa pengelolaan yang jelas, potensi tersebut justru terancam hilang dalam waktu relatif singkat.

“Kalau sagu tidak dimanfaatkan, 18 bulan kemudian pohonnya mati. Ini sering tidak terlihat karena lokasinya di tengah hutan. Tapi jika dekat permukiman, akan tampak banyak pohon sagu mati karena tidak dikelola,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan berdasarkan hasil kajiannya, sekitar 93 persen pohon sagu fase masa tebang di SBT belum tersentuh pengelolaan. 

Kondisi ini dinilai sebagai pemborosan sumber daya alam yang seharusnya mampu menjadi penggerak ekonomi lokal dan sumber pendapatan daerah.

“Ini potensi yang terbuang sia-sia. Kalau dikelola dengan baik, dampaknya sangat luar biasa, baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun bagi Pemkab SBT,” jelasnya.

Pihaknya mengakui, jika kondisi ini terus dibiarkan, SBT dinilai berisiko kehilangan peluang besar menjadikan sagu sebagai komoditas unggulan berbasis hilirisasi yang berkelanjutan.(*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved