Jumat, 5 Juni 2026

SBT Hari Ini

Pelayanan Bedah RSUD Bula Kewalahan, 8 Ruang Rawat Hanya 2 yang Berfungsi

RSUD Bula mengalami krisis ruang rawat bedah, dari 8 ruangan hanya 2 yang masih berfungsi.

Tayang:
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Ode Alfin Risanto
TribunAmbon.com/Haliyudin Ulima
RSUD BULA - Tampak bagian depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. 
Ringkasan Berita:
  • RSUD Bula mengalami krisis ruang rawat bedah, dari 8 ruangan hanya 2 yang masih berfungsi.
  • Kapasitas pasien tidak sebanding dengan kondisi fasilitas yang sudah banyak tidak layak pakai.
  • Pihak rumah sakit mengakui butuh renovasi besar namun terkendala keterbatasan anggaran.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Pelayanan pasien bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bula saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. 

Dari delapan ruangan yang tersedia untuk menampung puluhan pasien, hanya dua ruangan yang masih berfungsi.

Kondisi tersebut diungkapkan Direktur RSUD Bula, dr. Deny Suryana, saat rapat evaluasi pelaksanaan APBD Semester I Tahun Anggaran 2026 bersama Komisi III DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Kamis (4/6/2026).

Baca juga: MeiLAJU untuk Desa Berdaya, PLN UP3 Saumlaki Dorong Produktivitas Masyarakat Desa Romean

Baca juga: Jelang Pemulangan Jamaah Haji, Seorang Jamaah Asal  Maluku Wafat di Mekkah

Menurut Deny, keterbatasan ruang rawat bedah menjadi salah satu persoalan paling berat yang dihadapi rumah sakit selain masalah ambulans.

Ia menjelaskan ruang bedah yang tersedia sebenarnya dirancang untuk menampung sekitar 30 pasien. 

Namun sebagian besar ruangan sudah tidak layak digunakan sehingga pelayanan hanya bertumpu pada dua ruangan yang masih berfungsi.

"Ruang bedah ini ada delapan ruangan untuk 30 pasien, sedangkan yang berfungsi cuma dua. Pasiennya banyak," sesalnya.

Kondisi tersebut membuat pihak rumah sakit kerap kesulitan mengatur penempatan pasien yang membutuhkan perawatan dan tindakan medis.

Deny mengaku situasi itu sering menimbulkan keluhan masyarakat karena tingginya jumlah pasien tidak sebanding dengan kapasitas ruang yang tersedia.

"Saya memaksakan kadang di situ, pasti jadi omongan publik. Tapi kalau sudah bicara masalah pelayanan terkait ruang bedah, itu memang keadaannya seperti itu," bebernya.

Kata dia, sebagian besar ruangan memerlukan renovasi menyeluruh karena kondisi bangunan sudah tidak layak digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Ia mengaku tidak mampu melakukan perbaikan secara mandiri karena kebutuhan anggaran yang sangat besar.

"Untuk perombakannya uangnya sangat besar sekali. Saya tidak bisa membijaki di situ karena memang sudah tidak layak sekali," tutupnya.(*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved