Maluku Terkini
Berbagai Komoditas di Maluku Meningkat per Maret 2026, Inflasi Pertahun 3,40 Persen
Data ini berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku di 3 kabupaten/kota, yakni Tual, Ambon, dan Maluku Tengah.
Penulis: Maula Pelu | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan, pada Maret 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,40 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,80 pada Maret 2025 menjadi 111,46 terhadap Maret 2026.
- Sementara tingkat deflasi m-to-m sebesar 0,75 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 0,58 persen.
- Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 10 indeks kelompok pengeluaran.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2026 dibandingkan Maret 2025 menunjukkan tren kenaikan.
Data ini berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku di 3 kabupaten/kota, yakni Tual, Ambon, dan Maluku Tengah.
Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan, pada Maret 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,40 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,80 pada Maret 2025 menjadi 111,46 terhadap Maret 2026.
Sementara tingkat deflasi m-to-m sebesar 0,75 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 0,58 persen.
Baca juga: Penyimpangan KUR BRI Unit Tiakur Rugikan Negara Rp. 2,8 Miliar, Motif Perkaya Diri Terungkap
Baca juga: Menteri Nusron Bangun Kesadaran Mahasiswa tentang Nilai Ekonomi Tanah
Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 10 indeks
kelompok pengeluaran, yaitu:
- Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 9,55 persen;
- Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,10 persen;
- Kelompok kesehatan sebesar 5,68 persen;
- Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,37 persen;
- Kelompok pendidikan sebesar 2,84 persen;
- Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,54 persen;
- Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,42 persen;
- Kelompok transportasi sebesar 0,67 persen;
- Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,64 persen;
- Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,18 persen.
Untuk kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan hanya kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,64 persen.
Komoditas dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Maret 2026, ialah tarif listrik, emas perhiasan, bawang merah, beras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), ikan cakalang, labu siam/jipang, cabai merah, daging ayam ras, nasi dengan lauk, tarif rumah sakit, tarif angkutan udara, biaya akademi/perguruan tinggi, kangkung, buncis, kopi bubuk, kacang panjang, sawi hijau dan sigaret putih mesin (SPM).
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: ikan layang/momar, ikan tongkol/ komu, ikan selar/kawalinya, bensin, lemon, popok bayi sekali pakai/diapers, sabun mandi, tarif angkutan laut, sepatu pria, bawang putih, wortel, baju muslim wanita, ketimun, hand body lotion, ikan kembung/lema, sagu, baju kaos tanpa kerah/t-shirt anak, baju anak stelan, bayam dan sepatu anak.
Untuk Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m pada Maret 2026, antara lain: ikan layang/momar, ikan selar/kawalinya, ikan tongkol/komu, ikan cakalang, ikan tuna/tatihu, buncis, kacang panjang, tomat, tarif angkutan laut, sawi hijau, ketimun, lemon, bawang merah, emas perhiasan, telepon seluler, ikan asap, bawang putih, shampo, ikan kembung/lema dan talas/keladi.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m, antara lain: cabai rawit, cabai merah, bensin, biskuit, telur ayam ras, beras,
labu siam/jipang, sigaret kretek mesin (SKM), daun singkong, pisang, tahu mentah, gula pasir, bahan bakar rumah tangga, laptop/notebook, kentang, tarif angkutan udara, bunga pepaya, daging ayam ras, daun melinjo dan jeruk.
Pada Maret 2026, kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu:
- Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,20 persen;
- Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,13 persen;
- Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,68 persen;
- Kelompok penyediaan makanan dan minuman/ restoran sebesar 0,12 persen;
- Kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan sebesar 0,11 persen;
- Kelompok transportasi sebesar 0,09 persen; Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen;
- Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen;
- Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu hanyalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 persen.(*)
| Terkuak Modus! Bendahara Kejari SBT Akui Gelapkan Dana Kantor Rp. 700an Juta Tuk Kepentingan Pribadi |
|
|---|
| Kejari SBB Naikan Kasus Dugaan Korupsi SPPD Fiktif di DPRD SBB ke Tahap Penyidikan, Bukti Dikantongi |
|
|---|
| Hari Lahir Pancasila 2026, Kapolda Maluku: Hoaks dan Ujaran Kebencian Jadi Ancaman Persatuan Bangsa |
|
|---|
| Ricuh di SBB, Ketua IPPTAS Minta Masyarakat Percayakan Proses Hukum kepada Kepolisian |
|
|---|
| Kejati Koordinasi dengan Polda Maluku, Usut Dugaan Korupsi Rp. 6,7 Miliar Proyek SMA N 29 SBB |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/jmp-ambon.jpg)