Minggu, 12 April 2026

Ramadan

Ramadan di Negeri Larike: Ada Syair Khusus tuk Bangunkan Warga Sahur

Namun, baru-bari ini viral di media sosial syair bertajuk "makan kurma mana bijinya", salah satu syair sahur khas Larike.

Istimewa
NEGERI LARIKE - Nampak pemandangan Negeri Larike, Kecamatan Leihitu Barat, Maluku Tengah 

‎Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 
‎ 
‎MALTENG, TRIBUNAMBON.COM - Tradisi membangunkan warga untuk sahur di Maluku telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya kebersamaan masyarakat.

Meskipun tidak ada catatan resmi tentang awal mula tradisi ini, namun kegiatan ini jadi rutinitas setiap bulan Ramadan.

‎Di Negeri Larike, Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah, tradisi membangunkan sahur memiliki keunikan tersendiri. 

‎Para pemuda di sana melantunkan syair atau pantun sahur sambil berkeliling kampung, tanpa menggunakan alat musik modern.

Syair-syair ini telah diwariskan turun-temurun dan memiliki pesan moral serta nilai keagamaan.

‎Namun, seiring perkembangan zaman, cara membangunkan sahur dengan lantunan syair mulai berkurang.

Banyak pemuda yang lebih memilih alat musik modern. 

Baca juga: Ambon Motor Sport Bagi Takjil di Bundaran Leimena, Bukti Hobi Otomotif Juga Bisa Tebar Kebaikan

Baca juga: Diana Debora Persulessy Akui Gelapkan Uang Nasabah Bank Ina Rp 300an Juta Karena Terhempit Keuangan 

Namun, baru-bari ini viral di media sosial syair bertajuk "makan kurma mana bijinya", salah satu syair sahur khas Larike.

‎Pemuda Larike, Liken, berharap tradisi membangunkan sahur dengan lantunan syair tetap dilestarikan oleh generasi muda, karena sarat pesan moral dan nilai religius, serta menjadi bagian dari warisan budaya yang tidak boleh hilang.

‎Kepada TribunAmbon, Selasa (10/3/2026), Liken cukup bangga karena syair sahur tersebut kembali diangkat dan dikenal luas oleh masyarakat.

‎Menurutnya, kemunculan kembali syair sahur itu menjadi pengingat bahwa lantunan syair tradisional masih memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat, khususnya para pegiat musik Islami di Maluku saat melantunkan lagu-lagu sahur pada bulan Ramadan.

‎Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para warganet yang turut membagikan dan menghidupkan kembali syair-syair sahur legendaris dari Negeri Larike hingga dikenal luas di jagat maya.

‎“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Syair yang dulu sering dilantunkan pemuda kampung kini kembali dikenal banyak orang,” ujarnya.

‎Liken berharap lantunan syair atau pantun sahur tetap dilestarikan oleh generasi muda. Selain sarat pesan moral dan nilai religius, tradisi tersebut juga menjadi bagian dari warisan budaya yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

‎Berikut sejumlah syair sahur legendaris dari Negeri Larike yang dahulu sering dilantunkan pemuda saat membangunkan warga:

‎Assalamualaikum kami ucapkan
‎Walaikumsalam para pendengar
‎Batarea saur jangan dimarah
‎Kalau dimarah mendapat dosa

‎Makan korma mana bijinya
‎Bijinya ada dalam rebana
‎Pintu surga mana bijinya
‎Kuncinya ada shalawat Nabi

‎Potong tebu berganti dayung
‎Mari ku dayung Selat Malaka
‎Tuntutlah ilmu berganti dayung
‎Agar terhindar api neraka

‎Masjidil haram terlalu indah
‎Berdinding batu putih dan merah
‎Mesjid keliling Ka’bah di tengah
‎Rupa merupa malitul jannah

‎Di dalam neraka jiwa melayang
‎Api besar naik menjulang
‎Tera sakit bukan kepalang
‎Terbayangkan diri mau lari pulang

‎Pukul pangkalnya suara adzan
‎Impian bilang di zaman nabi
‎Itu suara sampai sekarang
‎Suara komando untuk sembahyang

‎Suatu malam nabi berbaring
‎Di samping Ka’bah Masjidil Haram
‎Jibril tiba memberi salam
‎Membawa nabi ke tepi zam-zam

‎Lailatul Qadar malam ampunan
‎Pahala terhitung seribu bulan
‎Malam itu turunnya Al-Qur’an
‎Hanyalah pada bulan Ramadan

‎Di dalam kubur seorang diri
‎tiada teman yang menemani
‎di dalam kubur gelap gulita
‎hanyalah amal ganti pelita

‎Zaman zaman Ya Rasulallah
‎tinggal di Mekkah terlalu lama
‎nabi wafat tinggal Medinah
‎tinggal anaknya Siti Fatimah

‎Bismillah itu permulaan Kalam
‎dengan Nama Allah Khalikul alam jangan percaya mada sekarang banyak fitnah kelilingi jalan

‎Mungkar dan Nakir datang bertanya    membawa cakmar gegap gempita
‎jika di tanya salah jawabnya
‎di palukan badan seluruh kepala

‎Imsak beriring fajar di timur
‎Usailah sudah waktu bersahur
‎Salat Subuh sudah tafakur
‎Mencari bekal di dalam kubur. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved