Pemprov Maluku
Pemprov Maluku dan Institut Leimena Gelar Seminar Penguatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Situasi kemajemukan di Maluku yang terdiri dari 283 sekolah multikomunitas agama, ditambah sejarah konflik sosial berbasis identitas dan realitas.
Penulis: Maula Pelu | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Provinsi Maluku dan Institut Leimena bekerja sama dengan YPPK Dr. JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan dukungan Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, dan Sasakawa Peace Foundation mengadakan seminar yang mengangkat inisiatif dan praktik baik pendidikan damai di Maluku melalui pendekatan LKLB.
- Seminar bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan LKLB.
AMBON, TRIBUNAMBOM.COM - Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Institut Leimena bekerja sama dengan Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dengan dukungan Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, dan Sasakawa Peace Foundation mengadakan seminar yang mengangkat inisiatif dan praktik baik pendidikan damai di Maluku melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).
Seminar bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)” dibuka secara resmi hari Kamis (12/2/2026), oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie, bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, mengatakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Maluku bersama Institut Leimena akan semakin memperkuat posisi pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membangun kohesi sosial di Maluku.
Situasi kemajemukan di Maluku yang terdiri dari 283 sekolah multikomunitas agama, ditambah sejarah konflik sosial berbasis identitas dan realitas kepulauan yang majemuk, semakin menunjukkan pentingnya pemahaman tentang LKLB.
“Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi,” kata Sarlota dalam seminar yang diadakan di Kantor Gubernur Provinsi Maluku, dihadiri oleh sekitar 150 guru dan kepala sekolah dari berbagai wilayah di Maluku.
Baca juga: Perkelahian Pemuda Pecah di Lorong Samping RSUP Leimena, Dua Warga Terkena Busur Panah
Baca juga: Ini 8 Wilayah di Maluku Potensi Gelombang Tinggi Capai 2.5 Meter
Sarlota berharap komitmen Maluku sebagai laboratorium hidup Orang Basudara bisa terwujud dengan menyebarkan contoh atau praktik baik yang sudah dilakukan para guru alumni LKLB di Maluku.
Ia menjelaskan program LKLB secara nasional telah diadakan lebih dari empat tahun sejak 2021, sedangkan khusus di Maluku diadakan Program LKLB untuk Perdamaian yang telah berlangsung selama dua tahun dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah.
“Kami ingin terus membagikan contoh praktik LKLB yang dapat diadaptasi di sekolah dan mendorong upaya integrasi LKLB ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” kata Sarlota.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
“Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan,” kata Matius Ho.
Matius menambahkan Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif. Bulan November kemarin, misalnya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
“Kami berharap seminar hari ini dapat membuahkan langkah-langkah tindak lanjut konkret karena keberhasilan upaya di Maluku ini tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara,” kata Matius.
Matius menjelaskan khusus di Ambon, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai “UNESCO City of Music”.
| Hadiri Ibadah Perayaan Paskah di Negeri Suli-Maluku Tengah, Ini Pesan Gubernur |
|
|---|
| Wagub Maluku Sentil Retribusi Seret, Dorong Digitalisasi Jadi Senjata Genjot PAD 2026 |
|
|---|
| Pimpin Apel Perdana Pasca Libur Lebaran, Hendrik Lewerissa Sampaikan 5 Poin Penting ke ASN |
|
|---|
| Berdekatan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, Gubernur: Ini Modal Kebersamaan |
|
|---|
| Gubernur dan Wagub Maluku Hadiri Sosialisasi Kampung Nelayan Merah Putih 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Djdnsk.jpg)