Senin, 13 April 2026

DPRD Malteng Kritik PT WLI: Limbah Cemari Air, Upah Buruh Dipertanyakan

Perusahaan tambak udang PT Wahana Lestari Investama (WLI) di Negeri Pasahari, mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Malteng dalam RDP

Silmi Sirati Suailo
DPRD MALTENG - Anggota DPRD Maluku Tengah, Ahmad Ajlan Alwi sampaikan kritik terhadap PT. WLI, Kamis (24/4/2025) kemarin. 

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM – Perusahaan tambak udang PT Wahana Lestari Investama (WLI) di Negeri Pasahari, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD dalam rapat dengar pendapat, Kamis (24/4/2025).

Perusahaan yang berdiri sejak 1994 itu dilaporkan warga atas dugaan pembuangan limbah yang merusak tanaman kebun dan mencemari sumber air bersih masyarakat.

Dalam rapat Komisi II DPRD Malteng bersama pihak perusahaan, anggota dewan mempertanyakan sejumlah persoalan, mulai dari Hak Guna Usaha (HGU), sistem pengupahan, pembentukan serikat buruh, hingga penanganan limbah.

Anggota Komisi II DPRD Malteng, Ahmad Ajlan Alwi, menyampaikan beberapa catatan penting yang harus segera ditindaklanjuti.

Baca juga: Bupati Malteng Sampaikan Pesan Kemendagri kepada ASN: Swasembada Pangan hingga Reformasi Birokrasi

Baca juga: Mitra PT. Nusa Ina Datangi DPRD Maluku Tengah, Adukan Masalah Pembayaran Bagi Hasil

"Terkait dengan pengupahan harus ada langkah koordinasi dengan dewan pengupahan daerah kabupaten. Kira-kira upah minimum yang ditetapkan oleh dewan pengupahan itu berapa," ujar politisi muda kelahiran Masohi, 1993 itu.

Ia juga menekankan pentingnya pembentukan serikat buruh yang sesuai aturan nasional, bukan inisiatif internal perusahaan.

"Bukan serikat yang dibentuk oleh internal perusahaan," tegas politisi Partai NasDem tersebut.

Selain itu, Ajlan juga menyoroti limbah tambak yang diduga sudah lama mencemari lingkungan sekitar.

"Limbah yang terjadi di Pasahari bukan hal baru, limbah tersebut sudah berdampak," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu dampak utama adalah air tanah menjadi asin, sehingga warga tidak lagi bisa mengakses air bersih dari sumur galian maupun pipa bor.

Ajlan menyarankan agar perusahaan bekerja sama dengan lembaga penelitian atau laboratorium untuk meneliti lebih jauh dampak limbah tersebut.

"Dampak limbah berikut adalah kerusakan terhadap tanaman warga, salah satunya kelapa. Ada yang buahnya kecil, ada yang putus ujung, pohonnya mati. Jadi ini sudah berlanjut sekian tahun," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved