Maluku Legend

Samir, Pengayuh Becak Sejak Tahun 80-an di Masohi 

Usia senja membuat tubuh Bapak Samir tidak seprima dulu. Akhirnya ia lebih memilih  bernostalgia dengan menghabiskan waktu nongkrong bersama para tuka

TribunAmbon.com/ Silmi Suailo
BAPAK SAMIR - Pengayuh becak legend di Masohi, Bapak Samir, saat diwawancarai TribunAmbon.com, Kamis (20/2/2025). 

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - Samir, pria baya ini begitu familiar di kalangan para tukang becak.

Tahun ini tepat dirinya berusia 50 tahun, nyaris separoh dari hidupnya berada di jalanan Kota Masohi.

Mengayuh becak sejak tahun 80-an menjadikan dia paham betul sudut kota tua itu.

Usia senja membuat tubuh Samir tidak seprima dulu. Akhirnya ia lebih memilih  bernostalgia dengan menghabiskan waktu nongkrong bersama para tukang becak hingga tukang ojek di depan Masohi Plaza (Mamplaz). 

Kepada TribunAmbon.com, Kamis (20/2/2025), Bapak Samir menceritakan suka dukanya ketika menjadi tukang becak di tahun-tahun tersebut. 

"Dulu saya dari Bugis ke Masohi langsung bekerja sebagai tukang becak. Waktu itu masih belum ada orang yang mancari jadi tukang becak," kata Pak Samir. 

Pria paruh baya itu mengaku, dulu tarif becak masih di angka Rp. 2 ratus perak. Kemudian naik menjadi Rp. 3 ratus hingga Rp. 5 ratus perak. 

Dulu, orang asli Maluku enggan  menjadi tukang becak lantaran gengsi dan faktor lainnya. 

Baca juga: Ikut Rapat Terbatas di Istana, Menteri Nusron Paparkan Isu Strategis Soal Pertanahan dan Tata Ruang

Baca juga: SAH, Presiden Prabowo Resmi Lantik 11 Kepala Daerah di Maluku

"Tapi sekarang dari daerah mana saja ada di pangkalan - pangkalan dekat sini," jelasnya. 

Semasa itu, Maplaz pun belum ada, ia biasa mangkal di depan Kodim Masohi. Dalam sehari ia bisa membawa pulang Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu.

"Dulu kan harga barang masih murah, jadi dengan uang segitu sudah bisa cukup beli keperluan dapur," ujar bapak satu anak itu. 

Selepas mengayuh becak kurang lebih 20 tahun, ia kemudian beralih menjadi tukang ojek di tahun 2.000-an. 

"Itu pasca kerusuhan. Tahun itu Masohi sudah mulai ramai, banyak orang mulai berdatangan, pemasukan juga lumayan banyak bisa mencukupi kebutuhan di rumah," ceritanya. 

Sayangnya, ia melihat kondisi dua tahun belakangan ini sangat susah mencari penumpang. Ditambah persaingan antara ojek konvensional, ojek online, tukang becak, hingga angkutan umum. 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved