Kawasan Industri Pulau Obi jadi Pionir bagi Hilirisasi Nikel Indonesia
Harita Nickel membangun pabrik peleburan bijih nikel berteknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Penulis: Fransisca Andeska | Editor: Anniza Kemala
TRIBUNAMBON.COM - Sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki komoditas pertambangan yang berlimpah, salah satunya adalah nikel. Bahkan, menurut data dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia pada 2022.
Menjadi negara dengan produsen nikel terbesar, tentunya menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, kebutuhan nikel diprediksi akan melonjak jika melihat perkembangan tren dunia terhadap industri kendaraan listrik terus menggeliat.
Di tahun 2023 ini, nikel menjadi salah satu komoditas sumber daya alam yang sedang menjadi perbincangan. Pasalnya, nikel menjadi salah satu bahan dalam pembuatan baterai, pembuatan barang elektronik seperti televisi, setrika, dan laptop, serta menjadi bahan baku industri baja.
Melihat besarnya potensi tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk memberlakukan larangan bagi perusahaan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) untuk mengekspor bijih nikel ke luar negeri. Diketahui, hal ini diberlakukan guna mendorong industri pengolahan pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah bahan tambang sebelum diekspor.
Melihat permasalahan yang ada itu, PT Trimegah Bangun Persada TBK (TBP) atau dikenal dengan Harita Nickel membangun pabrik peleburan bijih nikel (smelter) berteknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang beroperasi di wilayah Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara pada tahun 2016.
Perusahaan nikel yang sudah beroperasi sejak 2010 ini kembali menjadi pionir dalam industri hilirisasi nikel dengan meresmikan operasional produksi nikel sulfat pertama di Indonesia sekaligus menjadi yang terbesar di dunia.
Berkat kehadiran smelter serta hilirisasi terintegrasi yang dicanangkan Harita Nickel, Indonesia dan Provinsi Maluku Utara mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan.
Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan II-2023 mengalami peningkatan sebesar 23, 89 persen dibanding tahun 2022 lalu. Bahkan, Presiden Jokowi mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara ini menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
"Pertumbuhan ekonomi tinggi di dunia itu Maluku Utara coba cek provinsi 27 persen," ungkap Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2022).
Fakta yang sama juga diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Melansir dari Kompas.com, Luhut mengatakan sepanjang tahun 2022 nilai ekspor nikel secara nasional mencapai angka US$ 33,81 miliar atau sekitar Rp507 triliun. Ini menunjukkan bahwa angka tersebut melonjak sebesar 745 persen dari nilai ekspor tahun 2017 ketika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah berupa bijih nikel.

Untuk melihat secara langsung proses peleburan bijih nikel di Pulau Obi dan dampak hilirisasinya, tim redaksi Tribunnews berkesempatan mengunjungi smelter Harita Nickel.
Ayo, lihat bagaimana proses pengolahan bijih nikel di smelter tersebut dengan menyaksikan video bertajuk “Ekspedisi Hilirisasi Anak Bangsa” dalam episode “Nikel di Sekitar Kita” pada link YouTube Tribunnews berikut ini!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Harita-Nickel-1.jpg)