Minggu, 10 Mei 2026

News

Kemenkes RI Peringatkan Potensi Wabah Hantavirus, Tikus Jadi Sumber Utama

Mayoritas kasus hantavirus di Indonesia disebabkan Seoul virus yang ditularkan tikus rumah

Tayang: | Diperbarui:
itsbiography.com
penularan hantavirus 
Ringkasan Berita:
  • Mayoritas kasus hantavirus di Indonesia disebabkan Seoul virus yang ditularkan tikus rumah
  • Tercatat 23 kasus dengan 3 kematian sepanjang 2024–2026, tersebar di 29 provinsi
  • Masyarakat diimbau jaga kebersihan dan hindari kontak dengan tikus untuk cegah penularan

TRIBUNAMBON.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa mayoritas kasus hantavirus di Indonesia disebabkan oleh strain Seoul virus (SEOV) yang ditularkan melalui tikus rumah.

Jenis ini berbeda dengan Andes virus yang sempat menjadi sorotan dalam wabah di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik.

Sepanjang periode 2024 hingga 2026, tercatat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia dengan tiga kasus kematian. 

Baca juga: Menkes Ingatkan Bahaya Obesitas dan Diabetes, Kunci Sehat Ada di Pola Makan dan Olahraga

Baca juga: Pisah Sambut Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Tanimbar, Ini Rekam Jejak Kepemimpinan Baru 

Seluruh kasus tersebut mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome yang disebabkan oleh Seoul virus.

“Seluruh kasus konfirmasi tersebut mengarah pada HFRS yang disebabkan Seoul virus,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan hantavirus pada hewan pembawa (reservoir) seperti tikus telah ditemukan di 29 provinsi. 

Temuan ini berasal dari studi Rikhus Vektora oleh Balai Litbangkes Kelas I Salatiga.

Penularan penyakit ini berkaitan dengan kontak manusia dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk melalui paparan kotoran, urine, atau air liurnya.

Berdasarkan informasi Kemenkes, infeksi Seoul virus umumnya menimbulkan gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, mata kemerahan, hingga ruam.

Pada kondisi berat, penyakit dapat menyebabkan gangguan ginjal, perdarahan saluran pencernaan, gangguan pernapasan, hingga gangguan saraf.

Karena hidup dekat dengan manusia, risiko penularan Seoul virus dinilai lebih tinggi dibandingkan zoonosis lain yang berasal dari satwa liar.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan guna mencegah penularan.

Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area terkontaminasi, rutin mencuci tangan, serta mengelola sampah dengan baik.

Kemenkes mengingatkan, penyakit ini berpotensi menimbulkan wabah jika tidak dikendalikan, mengingat tikus tersebar luas di berbagai habitat.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kasus Hantavirus di Indonesia Didominasi Seoul Virus, Ini Gejala Umum

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved