Senin, 27 April 2026

Nasional

Mengenal Pengolahan Nikel Kelas Dunia Milik Harita di Pulau Obi

Meski luasnya kira-kira hanya empat kali luas DKI Jakarta, namun ada industri pengolahan nikel dengan valuasi hampir Rp 100 triliun.

Editor: Fandi Wattimena
Harita Grup
Pabrik pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah dengan teknologi High Pressure Acid Leach yang dikelola oleh entitas asosiasi PT TBP Tbk, yaitu PT Halmahera Persada Lygend (Harita Grup) 

Saat Tribunnews berkunjung ke Pulau Obi, bersandar dua kapal besi berbendera Panama.

Wilayah tambang nikel Harita seluas 4.247 hektar. Sebagian besar terlihat lokasi bekas-bekas penambangan, lalu menjulang bangunan pabrik, smelter, pembangkit listrik, bangunan bertingkat permukiman karyawan, perkantoran, supermarket, sport centre, hingga Hotel Obi, hotel bintang empat.

Pulau itu adalah kawasan berikat yang dilengkapi pelabuhan, lahan peti kemas, dan bisa langsung membawa nikel ke luar negeri.

Area tambang Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara
Area tambang Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara (Harita Grup)

Berdayakan Warga

Layaknya kota tambang, ke mana-mana harus memakai sepatu proyek. Jalanan becek berlumpur. Setiap kali masuk ke dalam bangunan, entah hotel atau kantor, wajib buka sepatu proyek.

Pulau Obi dibangun dalam tempo singkat, 13 tahun. Pabrik, kantor, jalan, penambangan, penimbunan kembali serta reboisasi, pemeliharaan lingkungan, pembangunan rumah untuk warga Kawasi, pembangunan pembangkit listrik, penghijauan, sawah untuk warga, dan seterusnya dilakukan serentak.

Pulau itu benar-benar terus berdenyut, membangun, 24 jam sehari.

Beda dari kota pada umumnya, penghuni Pulau Obi mendapatkan makanan gratis dari perusahaan tiga kali sehari. Harita Nickel harus menyediakan makanan bagi 32 ribu karyawannya.

Dengan asumsi satu karyawan Rp 100 ribu, maka untuk menyediakan makanan saja, perusahaan harus mengalokasikan dana Rp 3,2 miliar per hari.

Untuk memenuhi sebagian kebutuhan karyawannya itu, Harita memberdayakan warga Kawasi, perkampungan warga yang terletak di area Harita. Jumlah penduduknya, menurut data resmi, 800 orang. Saat ini sudah membengkak menjadi 4.000 orang, sebagian besar adalah pedagang.

Di antara warga itu ada Mama Cahya. Wanita keturunan Pasarwajo, Buton, Sultra, yang menikah dengan orang Maluku ini mulanya membantu anak-anak yatim di kampung itu.

Kepeduliannya pada warga mempertemukannya dengan Broto Swarso, pria Jawa berambut gondrong. Dia adalah aktivis yang peduli pada warga yang kemudian direkrut menjadi pemimpin divisi pengembangan masyarakat (community development) Harita.

Broto, atau akrab dipanggil Pak Gatot, lebih banyak menghabiskan waktunya bersama masyarakat daripada duduk di kantor.

Bersama Broto, Mama Cahya mengumpulkan ibu-ibu untuk mengembangkan usaha kecil seperti memproduksi keripik pisang dan sambal tuna.

Mama Cahya juga mengelola supermarket di kampung itu dengan omset sekitar Rp 200 juta per bulan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved