Ambon Hari Ini
Masih Kental Arsitektur Indische Ala Kolonial Buat Takjub Para Backpacker Depok
Mungkin itu satu dari sekian nilai yang didapat tiga pemuda penjelajah kebudayaan ini. PelanTapiGowes
Penulis: M Fahroni Slamet | Editor: Fandi Wattimena
AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Tiap singgahan, ada pengalaman berbeda.
Mungkin itu satu dari sekian nilai yang didapat tiga pemuda penjelajah kebudayaan ini.
PelanTapiGowes, itulah sebutan dari program unik tiga pemuda super nekat dari Pulau Jawa itu.
Rafii, Rifki dan Gustianto Prabowo, ketiganya adalah pecinta sepeda yang takjub akan sempurnanya nusantara.
Bondo Nekat atau modal nekat; sepeda ontel dan bekal seadanya.
Itu cukup membuktikan besarnya takjub akan wilayah ber-Bhineka Tunggal Ika ini.
Dan kemudian membawa mereka hingga ke provinsi pembentuk Indonesia di awal kemerdekaan ini.
Di Maluku, Kota Ambon tentu menjadi singgahan pertama, karena merupakan pintu masuk.
Dan Pasar Mardika menjadi titik pertama perjalanan tiga pesepeda ontel itu.
Baca juga: Komunitas Sepeda Lipat Ambon Gowes Santai Keliling Teluk
Kenapa Mardika? Kata Rafii Mardika berasal dari kata Mardijker yang berarti kebebasan.
Mungkin itu alasan utama, mempelajari karakter masyarakat Maluku dimulai dari tempat yang paling bebas.
Kebebasan itu tertangkap jelas dari kompleksnya aktivitas di pusat perekonomian tradisional terbesar di kota berjuluk manise ini.
Selepas dari Mardika. rute mengayuh sepeda mereka dilanjutkan dengan mengitari Pulau Ambon dari arah Leihitu Barat.
Disana jelas banyak sekali hal yang dapat mereka rekam melalui mata dan ingatan hingga nanti berakhir pada pameran, film, dan juga beberapa buku.
Rafii mengatakan, perjalanan menyusuri Negeri-Negeri Jazirah, dia menemukan banyak kesamaan pada struktural rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/PelanTapiGowes-B.jpg)