Breaking News:

Ambon Manise

Potret Mama Papalele Berbaju Cele di Sudut Kota Ambon

Mengenakan Baju Cele hingga saat ini adalah cara para Mama Papalele ini untuk terus melestarikan budaya berbusana masyarakat Ambon, Maluku.

Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com / Jenderal
KOTA AMBON: Potret Mama-mama pedagang buah di Lorong Kantor Pos, Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Rabu (2/11/2022). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kebaya Ambon sebagai pakaian adat khas Maluku mulai tergerus zaman.

Pasalnya zaman ini pakaian modern lebih diminati kawula muda.

Namun, hal berbeda dapat kita jumpai di sudut Kota Ambon, misalnya di Jalan Lorong Kantor Pos, Kecamatan Sirimau.

Potret Mama Papalele mengenakan Baju Cele sambil menunggu calon pembeli menyambangi lapak mereka.

Para Mama Papalele ini diketahui melakoni aktivitas berdagang sejak tahun 90an.

Salah satu pedagang buah, Oma Net Latuheru mengatakan, mereka sudah bertahun-tahun berjualan di lokasi tersebut dengan berbusana Cele

"Beta sudah lama berjualan buah ditempat ini, kami mengenakan kebaya sebagai ciri khas wanita Ambon dan juga untuk melestarikan kebudayaan," ucap Oma Net kepada TribunAmbon.com sore pukul 15.30 WIT, Rabu (2/11/2022).

AMBON: Mama Papalele tengah melayani pelanggan di Lorong Kantor Pos, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Rabu (2/11/2022).
AMBON: Mama Papalele tengah melayani pelanggan di Lorong Kantor Pos, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Rabu (2/11/2022). (TribunAmbon.com / Jenderal)

Oma Net menuturkan, biasanya mereka menyiapkan kain, kemudian dibawa ke tukang jahit dan meminta untuk dibuatkan sesuai ukuran.

Mengenakan Baju Cele hingga saat ini adalah cara para Mama Papalele ini untuk terus melestarikan budaya berbusana masyarakat Ambon, Maluku.

Meski dia harus merogoh koceh lebih untuk biaya kain dan jasa jahit.

Baca juga: Pojokkan Taman Pantai Wainitu Terasingkan dan Tak Terurus

"Oma biasanya beli kain lalu bawa ke tukang jahit, Nanti eso lusa kalau oma tidak ada lagi entah siapa yang menggantikan oma melestarikan kebaya Ambon sebagai warisan dari para leluhur," tutup Oma Net.

Lanjutnya mengatakan, kalau dagangan sepi mereka hanya membawa pulang kurang dari Rp. 100 ribu per hari.

Namun, ketika ramai, terutama musim buah-buahan di Kota Ambon, maka pendapatan mereka di atas Rp. 200 ribu per harinya.

Pantauan TribunAmbon.com di lokasi, mereka berjualan dari hari Senin hingga Sabtu pada pukul 08.00 WIT sampai pukul 18.00 WIT.

Adapun buah yang mereka jual yakni Pisang, Pepaya, Nanas, dan Kenari.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved