Breaking News:

Global

Di Tengah Krisis Ekonomi, Sri Langka Naikan Harga BBM Capai Rekor Tertinggi

Negara kepulauan di Asia Selatan itu telah mengalami kekurangan pasokan BBM selama berbulan-bulan dan protes anti-pemerintah, yang berubah menjadi mem

Editor: Adjeng Hatalea
(AP PHOTO/ERANGA JAYAWARDENA)
Pengemudi becak motor Sri Lanka mengantre untuk membeli bensin di dekat SPBU ibu kota Colombo, Rabu (13/4/2022). Perdana Menteri Sri Lanka hari itu menawarkan bertemu dengan pengunjuk rasa yang menempati pintu masuk kantor presiden, seraya mengatakan dia akan mendengarkan ide-ide mereka untuk menyelesaikan tantangan ekonomi, sosial, dan politik yang dihadapi negara.(AP PHOTO/ERANGA JAYAWARDENA) 

COLOMBO, TRIBUNAMBON.COM - Sri Lanka yang tengah mengalami krisis ekonomi, menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) ke rekor tertinggi pada Selasa (24/5/2022).

Negara kepulauan di Asia Selatan itu telah mengalami kekurangan pasokan BBM selama berbulan-bulan dan protes anti-pemerintah, yang berubah menjadi mematikan pada awal Mei dengan sedikitnya sembilan orang tewas.

Menteri Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera mengatakan, "kabinet perang ekonomi" yang baru ditunjuk pada Senin (23/5/2022), menyetujui harga baru BBM untuk membendung kerugian besar di Ceylon Petroleum Corp yang dikelola negara.

Harga solar, yang biasa digunakan di angkutan umum, dinaikkan dari 289 rupee (sekitar 0,80 dollar AS atau Rp11.750) menjadi 400 rupee per liter (Rp16.270) atau 38 persen, sementara harga satu liter bensin naik dari 338 ruppe (sekitar Rp13.750) menjadi 420 rupee (sekitar Rp17.090) atau 24 persen.

Harga solar di Sri Lanka telah meningkat 230 persen dan bensin telah naik 137 persen dalam enam bulan terakhir.

Sri Lanka telah mengalami kekurangan pasokan kedua jenis BBM ini. Para pengendara di negara itu pun harus mengantre, terkadang sampai berhari-hari untuk bisa mendapatkan BBM. Kekurangan devisa akut di Sri Lanka telah menyebabkan kelangkaan BBM, makanan dan obat-obatan yang meluas sementara penduduk menderita pemadaman listrik yang lama dan inflasi yang tinggi.

Kantor sensus Sri Lanka melaporkan pada Senin (23/5/2022), bahwa inflasi negara secara keseluruhan untuk April secara year on year (YoY) melonjak 33,8 persen, dengan inflasi makanan bahkan lebih tinggi 45,1 persen.

Pengamat Sebut Jokowi Mestinya Copot Mendag, Bukan Minta Luhut Urus Minyak Goreng

Namun, seorang ekonom di Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, yang melacak harga di titik-titik masalah dunia, mengatakan inflasi Sri Lanka bahkan lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi.

"Dengan menggunakan data frekuensi tinggi dan teknik paritas daya beli, saya secara akurat mengukur inflasi pada 122 persen year on year," kata Hanke, mengacu pada inflasi Maret, yang secara resmi dilaporkan 21,5 persen.

"Inflasi menghancurkan yang (penduduk) termiskin di Sri Lanka," tambah dia, dilansir dari Kantor Berita AFP.

Sri Lanka bulan lalu mengumumkan gagal bayar utang luar negerinya senilai 51 miliar dollar AS dan sedang dalam pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengamankan dana talangan.

Pemerintah Sri Lanka telah memberlakukan larangan impor secara luas pada Maret 2020 untuk menghemat mata uang asing karena arus masuk dollar melambat.

Mata uang lokal telah kehilangan nilainya dengan cepat.

Satu dollar AS dibeli 200 rupee pada bulan Maret, tetapi nilai tukar sekarang telah memburuk menjadi 360 rupee per dolar.

Pandemi Covid-18 ini memperparah kesengsaraan ekonomi negara yang dipicu oleh pemotongan pajak drastis Presiden Gotabaya Rajapaksa pada 2019 sebagai bagian dari janji pemilihannya.

Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Ranil Wickremesinghe menjabat pekan lalu setelah kekerasan protes memaksa pendahulunya Mahinda Rajapaksa, saudara laki-laki presiden, mengundurkan diri.

Para pengunjuk rasa terus menuntut presiden mundur, dan negara itu masih tanpa menteri keuangan untuk melakukan pembicaraan bailout mendesak dengan IMF.

(Kompas.com / Irawan Sapto Adhi)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved