Kamis, 16 April 2026

Meski di Tanah Rantau, Warga Maluku di Manokwari Tetap Peringati Hari Pattimura dengan Cara Ini

Ratusan masyarakat Maluku di sana memadati lapangan Borarsi, Distrik Manokwari Barat, Papua Barat, untuk memperingati hari Pattimura.

TribunPapuaBarat.com/Safwan Raharusun
Pelepasan obor pada momentum hari Pattimura ke 205 tahun, dari tiga suku (Maluku Tenggara, Utara dan Maluku Tengah) kepada sesepuh Maluku, Dominggus Mandacan, Senin (16/5/2022). 

TRIBUNAMBON.COM - Masyarakat Maluku di Manokwarei, Papua Barat, tetap peringati Hari Pattimura meski di tanah rantau.

Ratusan masyarakat Maluku di sana memadati lapangan Borarsi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, untuk memperingati hari Pattimura ke 205 tahun itu, Senin (16/5/2022) kemarin.

Kegiatan itu dimulai dengan pawai obor dari Monumen Isak Kijne hingga berakhir di lapangan Borarsi, Manokwari.

Selanjutnya, dilakukan penyerahan obor dari tiga tungku yaitu Maluku Utara, Maluku Tenggara dan Maluku Tengah kepada sesepuh Maluku di Papua Barat, Dominggus Mandacan.

Selain itu, Peringatan hari Pattimura ke 205 juga diwarnai aksi pukul menyapu atau mamala,

Atraksi itu dipentaskan oleh pemuda Maluku, yang dibagi menjadi dua kelompok atau regu.

Atraksi pukul menyapu oleh pemuda Maluku, di lapangan Borarsi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (16/5/2022).
Atraksi pukul menyapu oleh pemuda Maluku, di lapangan Borarsi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (16/5/2022). ((TribunPapuaBarat.com/Safwan Raharusun))

Setiap regu, berjumlah minimal 10 orang.

Para pemuda, terlihat sedang memakai celana pendek berwarna merah dan putih serta bertelanjang dada.

Mereka mengikat kepala dengan kain berwarna merah (kain berang).

Kemudian, kedua kelompok saling berhadapan, sembari memegang batang lidi dari pohon enau.

Lingkaran lidi yang digunakan sekira 0,5 cm dan bonggolnya selebar tiga sampai lima cm.

Selanjutnya, kedua kelompok itu saling memukul tubuh hingga luka atau memar dan berdarah.

Uniknya, meskipun tubuh para pemuda itu sudah terluka, mereka tidak ada yang marah apalagi dendam.

Pasalnya, luka dan darah itu merupakan simbol perjuangan melawan penjajah dalam mengenang sosok Kapitan Pattimura dan lainnya, yang berjuang mempertahankan Benteng Kapahaha dari VOC Belanda.

Usai atraksi itu, tubuh dari para peserta langsung dioles minyak khusus, yang dipercaya dapat menyembuhkan luka dan bekas pukulan sapu lidi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved