Breaking News:

Global

Jerman Umumkan Bakal Pelajari Keandalan Tes Rapid Antigen dalam Deteksi Omicron

Jerman akan mempelajari keandalan tes rapid antigen untuk mendeteksi varian Omicron. Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Jerman Karl Lau

Editor: Adjeng Hatalea
Freepik.com
Ilustrasi Virus Corona Varian Omicron. 

BERLIN, TRIBUNAMBON.COM – Jerman akan mempelajari keandalan tes rapid antigen untuk mendeteksi varian Omicron.

Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach pada Minggu (9/1/2022) sebagaimana dilansir Reuters.

"Kami tidak tahu persis seberapa baik tes ini (rapid antiden) untuk Omicron," kata Lauterbach melalui saluran penyiaran publik ARD.

Ilmuwan sekaligus dokter tersebut menambahkan, hasil penilaian tes rapid antigen akan tersedia dalam beberapa pekan ke depan.

Kendati demikian, Lauterbach menggarisbawahi bahwa lebih baik melakukan tes daripada tidak sama sekali.

Sebelumnya, dia menuturkan bahwa Jerman harus mengubah strategi vaksinasi Covid-19 untuk mengatasi varian Omicron.

Lauterbach juga mendesak Jerman untuk mengembangkan vaksin baru dengan cepat guna menghadapi varian Covid-19 yang lebih mematikan di masa depan.

Di Jerman, varian Omicron saat ini berkontribusi sekitar 44 persen dari seluruh kasus Covid-19 menurut Institut Robert Koch (RKI). Pada Minggu, RKI mencatat 36.552 kasus Covid-19 baru dalam 24 jam terakhir, tiga kali lipat dari jumlah sepekan sebelumnya.

Majelis rendah parlemen Jerman akan segera membahas rancangan undang-undang untuk mandat vaksinasi yang didukung oleh bisnis dan sektor publik.

Namun, pembahasan sempat ditunda di tengah ketidakpastian tentang dukungan untuk itu dalam pemerintahan koalisi tiga partai.

Lauterbach, dari Partai Sosial Demokrat, sangat menganjurkan vaksinasi wajib.

Sementara Menteri Kehakiman Marco Buschmann dari Partai Demokrat Bebas juga mendesak parlemen untuk segera memutuskan masalah ini.

Namun, pemimpin parlemen dari Partai Hijau, Britta Hasselmann, mengatakan bahwa partai-partai harus membahas masalah ini secara internal terlebih dahulu. "Ini bukan keputusan yang mudah, itu menyiratkan intervensi yang mendalam," kata Hasselmann.

(Kompas.com / Danur Lambang Pristiandaru)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved