Breaking News:

Global

Studi Terbaru Sebut Obat Penekan Kekebalan Tak Tingkatkan Risiko Covid-19 Parah

Pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menggunakan obat yang menekan sistem kekebalan, disebut tidak memiliki risiko terjangkit Covid-19 para

Editor: Adjeng Hatalea
pixabay.com
ILUSTRASI tentang obat Covid-19. 

WASHINGTON DC, TRIBUNAMBON.COM - Pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menggunakan obat yang menekan sistem kekebalan, disebut tidak memiliki risiko terjangkit Covid-19 parah.

Ini dibanding mereka yang memiliki sistem kekebalan normal Dilansir The Hill, di awal pandemi, dikhawatirkan orang yang menggunakan obat imunosupresif berisiko lebih tinggi terkena Covid-19 parah.

Ini karena sistem kekebalan tubuh mereka yang melemah.

Obat-obatan tersebut digunakan untuk mengobati kanker dan penyakit autoimun, dan untuk mencegah penolakan transplantasi. Tapi ini dibantah hasil studi terbaru.

"Secara umum, orang yang menggunakan obat imunosupresif dapat terus melakukannya dengan aman selama pandemi ini," kata penulis utama Kayte Andersen, kandidat doktor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, di Baltimore.

Untuk mempelajari lebih lanjut, timnya menganalisis data dari hampir 222.600 orang dewasa AS yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 dari Januari 2020 hingga Juni 2021.

Dari jumlah tersebut, 7 persen menggunakan obat imunosupresif sebelum dirawat di rumah sakit.

Para peneliti memisahkan obat imunosupresif ke dalam 17 kelas. Mereka menemukan bahwa tidak ada yang dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi secara signifikan dari pasien yang menggunakan ventilator--indikasi Covid-19 yang parah.

Temuan tersebut dipublikasikan bulan ini di jurnal The Lancet Rheumatology.

"Temuan ini menggembirakan dan penting, mengingat seberapa umum obat ini digunakan," kata rekan penulis studi G Caleb Alexander, seorang profesor epidemiologi di Johns Hopkins.

Para peneliti memang menghubungkan satu obat, rituximab, dengan peningkatan risiko kematian secara substansial.

Obat ini diberikan kepada pasien dengan kondisi medis serius seperti kanker atau gangguan autoimun yang tidak merespon pengobatan lain.

(Kompas.com / Tito Hilmawan Reditya)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved