Breaking News:

Nasional

Efektivitas Vaksin Akan Berkurang bagi Orang yang Pernah Terpapar Virus Corona Varian Delta

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Gatut Priyonugroho menyatakan efektivitas vaksin Covid-19 akan berkurang bagi seseorang

Editor: Adjeng Hatalea
(SHUTTERSTOCK/Steve Heap)
Ilustrasi vaksin Sinopharm yang diproduksi perusahaan farmasi China. Vaksin Covid-19 Sinopharm, vaksin China. 

JAKARTA, TRIBUNAMBON.COM - Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Gatut Priyonugroho menyatakan efektivitas vaksin Covid-19 akan berkurang bagi seseorang yang pernah terinfeksi virus SARS-CoV2 varian delta.

Hal tersebut disampaikan Gatut dalam webinar bertajuk

"Mengenal Lebih Dekat Covid-19 Varian Delta" yang digelar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) dan RSUI.

"Ketika dia sudah kena varian delta (lalu sembuh), terus divaksin, maka keefektifannya (vaksin) tidak sebaik seseorang yang belum terkena jenis varian tersebut," kata Gatut dikutip dari siaran pers, Rabu (14/7/2021).

Gatut mengatakan, apabila seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 lalu divaksinasi, maka antibodi orang tersebut akan meningkat.

Baca juga: 6 dari 10 Ranjang ICU RSUP Leimena Ambon Diisi Pasien Covid-19

Namun hal itu tidak berlaku bagi mereka yang pernah terpapar Covid-19 dengan jenis virus corona varian delta.

Jika virus SARS-CoV2 varian alpha dari Inggris bisa menularkan dari satu kepada enam orang, maka varian delta bisa menularkan dari satu kepada delapan orang.

"Angka tersebut tidak saklek, tetapi itu menggambarkan bahwa varian delta sangat mudah menular," kata dia. Adapun virus corona varian delta dijelaskan Gatut memiliki gejala hampir sama dengan varian lainnya.

Antara lain demam dengan persentase 94 persen, batuk 79 persen, sesak 55 persen, berdahak 23 persen, nyeri badan 15 persen, lelah 23 persen, dan sakit kepala 8 persen.

Kemudian rinorea sebanyak 7 persen, batuk darah sebanyak 5 persen, diare 5 persen, anosmia 3 persen, dan mual 4 persen.

Baca juga: Optimalkan Layanan di Tengah Pandemi, PLN Salurkan Bantuan Oksigen ke Sejumlah RS di Jawa Tengah

"Jika seseorang terkena Covid ringan, pada umumnya ia baik-baik saja atau 0,1 persen memberat," kata dia.

Lebih lanjut, Gatut pun meluruskan kesalahpahaman masyarakat tentang penyintas Covid-19 yang akan lebih kebal terhadap virus penyebab penyakit tersebut.

Hal itu pula, kata dia, yang menyebabkan banyak ditemukannya kasus orang terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya.

"Mereka yang pernah kena Covid-19 bukan berarti dia sudah menumbuhkan antibodi, tetapi itu juga tandanya dia terbukti rentan terkena Covid-19, karena virus itu cocok dengan tubuhnya sehingga mudah masuk," kata dia.

(Kompas.com / Deti Mega Purnamasari / Rakhmat Nur Hakim)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved