Breaking News:

New Normal Singapura

New Normal Singapura: Gejala Ringan Covid-19 Cukup Isoman di Rumah

Warga Singapura yang kelak terpapar Covid-19 dengan gejala ringan tidak perlu lagi dirawat inap di rumah sakit.

Editor: Adjeng Hatalea
(KOMPAS.com/ERICSSEN)
Foto pengunjung yang menggunakan meja yang berjarak jauh satu sama lain untuk melaksanakan aktivitasnya di area terbuka Tanjong Pagar Centre, Singapura, Kamis malam (1/7/2021) 

SINGAPURA, TRIBUNAMBON.COM – Warga Singapura yang kelak terpapar Covid-19 dengan gejala ringan tidak perlu lagi dirawat inap di rumah sakit.

Kebijakan ini akan menjadi salah satu gambaran blueprint atau cetak biru Singapura hidup berdampingan dengan Covid-19.

“Ke depannya, jika terinfeksi Covid-19, dokter akan memberikan surat sakit, pasien kemudian menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah masing-masing, beristirahat secukupnya, dan mengetes dirinya secara rutin hingga negatif Covid-19," kata Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung dalam wawancara eksklusif dengan The Straits Times, Kamis (1/7/2021).

Baca juga: Dua Anggota DPRD Kota Ambon Terpapar Corona

"Setelah itu pasien dapat kembali ke luar rumah,” lanjutnya Saat ini warga Singapura dengan gejala ringan harus menjalani perawatan di fasilitas pemulihan khusus yang terisolasi.

Menteri Ong menambahkan, sesungguhnya surat sakit tidak begitu diperlukan.

Karyawan yang terinfeksi atau terekspos cukup memberitahu kantor tanpa harus menyetorkan surat sakit dari dokter.

Sementara itu warga yang berpotensi terekspos virus corona, misal berada di tempat umum yang sama dengan penderita, akan menerima SMS dari Kementerian Kesehatan Singapura untuk mengetes dirinya dengan alat yang dapat dibeli di apotek.

Rumah sakit akan dikhususkan untuk penderita Covid-19 dengan gejala berat atau yang parah kondisinya

Rencana-rencana kebijakan di atas akan menjadi new normal hidup bersama dengan Covid-19 yang endemik di Singapura.

Menteri Ong menuturkan, keputusan memulai transisi new normal hidup bersama dengan Covid-19 diambil berdasarkan pertimbangan ilmiah.

Trajektori pandemi, angka vaksinasi, dan kualitas pengobatan adalah pertimbangan-pertimbangan tersebut.

“Warga Singapura sudah lelah dengan Covid-19. Tidak mungkin pemerintah terus membatasi gerak-gerik warga beraktivitas, bersosialisasi, bertemu teman, berjalan-jalan,” imbuh Menteri berusia 51 tahun itu.

(Kompas.com / Kontributor Singapura, Ericssen / Aditya Jaya Iswara)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved