Breaking News:

Kuti Kata Maluku

Kuti Kata; Tar Karja, Tar Makang

Ini pengajaran tentang melawan "orang muka pamalas" (=pemalas) dan "tukang harap gampang"

Editor: Fandi Wattimena
Sumber; Pdt. Elifas Tomix Maspaitella
Bete Porto 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - "Sapa tar karja tar makang te" (=siapa tidak bekerja tidak makan), karena "makanang tar datang sandiri" (=makanan tidak datang dengan sendirinya).

Ini pengajaran tentang melawan "orang muka pamalas" (=pemalas) dan "tukang harap gampang" (=manusia gampangan).

Sejatinya "samua orang tuh bisa karja" (=semua orang bisa bekerja), "mar kalu pamalas su nai diri, orang lia loko parang sa, mar sampe dusung kumpul wango-wango par user agas deng nyamu sa" (=bila dasarnya malas, dilihat orang menenteng parang ke kebun, tetapi setiba di sana hanya mampu menyiapkan api untuk mengusir agas dan nyamuk).

Ini merupakan suatu gambaran tentang orang yang sebenarnya memiliki dusun besar tetapi tidak mengerjakan apa-apa, lalu "harap tatanamang tua sa" (=berharap dari tanaman umur panjang yang sudah ditanami orang tua).

Cara mengajarkan anak untuk rajin adalah juga dengan bekerja. Banyak orangtua jika mau anaknya belajar menanami cengkih, "su taru ana cengke di tiris-tiris lalu kasih pasang, pulang skolah pikol akang iko tata di dusung e" (=sudah mempersiapkan anakan cengkih di samping rumah dan berpesan agar sepulang sekolah, anaknya memikul anakan itu ke dusun).

Baca juga: Kuti Kata; Bombong

Baca juga: Kuti Kata; Tahang-Tahang Deng Yang Ada Dolo

Biasanya setiba di dusun, orangtua "su gale lobang" (=sudah mempersiapkan lubang tanam) dan meminta anaknya "isi akang di situ" (=tanamilah di situ).

Di Porto (Pulau Saparua), ada "tampa pele" (=istilah ini menunjuk pada satu lokasi sebagai batas terdekat dengan kampung. Biasanya di sini orangtua meletakkan hasil kebun yang dipikul dari kebun, dan setelah jam sekolah, anak-anak mereka ke tempat itu untuk membawanya ke rumah).

Karena jarak kebun jauh dari rumah, maka "pagi-pagi buta lai papa dong su ka kabong ba-belo" (=sejak subuh orangtua sudah ke kebun untuk ba-belo/menanam umbi-umbian).

Kemudian mereka "biking pikolang, lalu pikol sampe di tampa pele" (=mempersiapkan pikulan, biasa berisi keladi, dan lainnya dan memikulnya ke tempat tersebut).

Jika "pikolang barat" (=berat pikulannya) biasanya "katong ade kaka baku bage" (=dibagikan kepada kami adik berkakak), tetapi kalau "ana yang basar bisa hala, maka dia hala" (=anak yang besar bisa memikulnya, dia memikulnya langsung).

Halaman
12
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved