Global

Kanada Kembali Temukan Ratusan Kuburan Tak Bertanda di Bekas Sekolah Adat

Ratusan kuburan tak bertanda telah ditemukan di dekat bekas sekolah anak-anak penduduk asli Kanada di Kamloops, British Columbia, menurut laporan medi

Editor: Adjeng Hatalea
AP PHOTO/JONATHAN HAYWARD
Tugu peringatan di luar Sekolah Asrama di Kamloops, British Columbia., Minggu, 13 Juni 2021. 

TORONTO, TRIBUNAMBON.COM - Ratusan kuburan tak bertanda telah ditemukan di dekat bekas sekolah anak-anak penduduk asli Kanada di Kamloops, British Columbia, menurut laporan media lokal pada Rabu (23/6/2021).

Temuan itu hanya selang beberapa minggu dari penemuan jenazah 215 anak pada lokasi yang berdekatan, yang memberikan gelombang keprihatinan ke seluruh Kanada.

Federation of Sovereign Indigenous Nations (FSIN) menyatakan jumlah kuburan tak bertanda yang baru ditemukan adalah "yang paling signifikan hingga saat ini di Kanada."

Baca juga: UPDATE Corona di Indonesia; Tambah 7.167 Orang, Pasien Sembuh Tembus Angka 1,8 Juta Per 23 Juni 2021

Pernyataan itu tidak menyebutkan angka. Pernyataan awal komunitas asli Kanada itu mengumumkan akan ada konferensi pers pada Kamis (24/6/2021), terkait "penemuan yang mengerikan dan mengejutkan dari ratusan kuburan tak bertanda di lokasi bekas Sekolah Asrama Indian Marieval" di Saskatchewan.

jenazah 215 anak-anak adat di kawasan sekolah asrama itu sebelumnya, memaksa warga Kanada menghadapi warisan sistem kekerasan dan asimilasi di masa lalu.

Reuters mewartakan, sistem sekolah asrama Kanada secara paksa memisahkan sekitar 150.000 anak pribumi dari keluarga mereka antara 1831 hingga 1996.

Baca juga: Menkes: 1 Juta Suntikan Vaksin Covid-19 Sehari Tak Cukup, Perlu Naik Jadi 2 Juta

Anak-anak itu kemudian diketahui mengalami kekurangan gizi dan dilecehkan secara fisik dan seksual. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada pada 2015, menyatakan sistem itu sebagai "genosida budaya."

Orang-orang yang selamat yang berbicara dengan Reuters mengingat kelaparan terus-menerus dan kesepian yang menghantui mereka.

Sekolah-sekolah itu dijalankan di bawah ancaman dan sering menggunakan kekerasan. Pemerintah federal Kanada meminta maaf atas sistem tersebut pada 2008. Sementara Gereja Katolik Roma, yang mengelola sebagian besar sekolah, belum meminta maaf.

Awal bulan ini, Paus Fransiskus mengatakan dia sedih atas temuan itu. {ernyataan yang ditolak oleh para penyintas.

(Kompas.com / Bernadette Aderi Puspaningrum)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved