Selasa, 5 Mei 2026

Global

China Menduga Tuduhan AS Soal Asal-usul Covid-19 dari Lab Wuhan Serupa Klaimnya terhadap Irak

China menduga penyelidikan AS terkait tuduhan kebocoran Covid-19 di lab Wuhan, akan seperti "AS menemukan senjata pemusnah massal di Irak".

Tayang:
Editor: Adjeng Hatalea
Institut Virologi Wuhan via Daily Mail
Dua peneliti dari Institut Virologi Wuhan tengah melakukan penelitian. Laboratorium tersebut disebut meneliti kelelawar dari goa yang diduga merupakan asal patogen virus corona. 

BEIJING, TRIBUNAMBON.COM - China menduga penyelidikan AS terkait tuduhan kebocoran Covid-19 di lab Wuhan, akan seperti "AS menemukan senjata pemusnah massal di Irak".

Sebuah editorial yang diterbitkan oleh Global Times yang dikelola Partai Komunis China mengklaim pemerintah Amerika "penuh arogansi" dan menggemakan teori bahwa Covid-19 muncul dari laboratorium di Wuhan, seperti yang dilansir dari The Sun pada Senin (31/5/2021).

Sentimen curiga China datang setelah Presiden AS Joe Biden pada pekan lalu mengumumkan tinjauan teori kebocoran lab Covid Wuhan.

Biden mengatakan komunitas intelijen akan "melipatgandakan upaya mereka" untuk menemukan asal-usul Covid-19 dan melaporkan kembali kepadanya dalam 90 hari.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menganggap Biden tidak tertarik pada penelusuran asal-usul ilmiah yang "serius" dan tidak peduli tentang "fakta atau kebenaran".

Editor Global Times terbaru menambahkan bahwa tidak realistis untuk memiliki "kesempiluan pasti" tentang asal-usul virus dalam 90 hari.

Artikel media itu juga mengatakan bahwa "Badan intelijen AS tidak memiliki kemampuan penelitian yang lebih unggul dari pada WHO".

Pihaknya juga menuduh pemerintah Amerika Serikat "memainkan permainan politik untuk membajak sains" dengan menuntut WHO harus "melayani kepentingan politik AS".

Dalam suatu paragraf media corong pemerintah itu lalu menyamakan penyelidikan asal-usul Covid-19 terbaru AS dengan Perang Irak.

Pada Maret 2003, pasukan AS menginvasi Irak dan berjanji unutk menghancurkan senjata pemusnah massal dan mengakhiri pemerintahan diktator Saddam Hussein.

"Ini adalah tahap pembuka dari apa yang akan menjadi kampanye yang luas dan terpadu," ujar George W Bush saat itu. Satu tahun kemudian, David Kay, mantan inspektur senjata AS, mengatakan kepada Kongres, "Kami hampir salah semua" soal Irak.

Sebuah laporan pada Maret 2005 menyebutkan bahwa tidak menemukan bukti senjata pemusnah massal karena intelijen sebelum perang sepertinya salah menilai.

Artikel itu menuduh Amerika menjalankan "kampanye anti-China" dan berkata, "Apa yang pada akhirnya akan mereka dapatkan hanyalah politik."

Ia menambahkan bahwa melacak asal-usul Covid-19 itu rumit dan mengatakan AS hanya menganggap Institusi Virologi Wuhan bersalah karena membocorkan virus.

Surat kabar negara itu juga menuduh badan-badan intelijen AS telah kehilangan kredibilitas mereka dan "memalsukan kebohongan untuk tujuan politik".

Artikel tersebut memperingatkan AS tengah mencoba menyalahkan China atas pandemi Covid-19, tetapi di sisi lain menilai tindakan itu mungkin menggambarkan hilangnya kredibilitas AS dengan "menyalahgunakan kekuatan".

(Kompas.com / Shintaloka Pradita Sicca)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved