Breaking News:

Kuti Kata Maluku

Kuti Kata; Kalu Tuhan Boleh Dua

Di Lease sering terucap, "lampu raja e" (=lampu yang terang benderang) sebagai penguatan atas kebenaran sebuah ucapan.

Sumber: Pdt. Eifas Tomix Maspaitella
KMP Feri Wayangan, Lautan Buru menuju Teluk Ambon 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Kadang "bakumalawang-bakumalawang nih" (=adu argumen) menyeret hal-hal iman ke dalamnya.

Untuk membuktikan benar tidaknya pendapat sering diucapkan "sumpah e" (=saya bersumpah) sambil "taru jare telunjuk di lidah lalu garis testa"; di Waemulang, pulau Buru malah sering diucapkan "sumpah e, gareja putih e" (=sumpah demi gereja yang cat temboknya berwarna putih) atau "sumpah, gareja satu e" (=sumpah demi gereja satu/gereja lama) atau "sumpah, gareja dua e" (=sumpah demi dua bangunan gereja - lama dan baru).

Di Lease sering terucap, "lampu raja e" (=lampu yang terang benderang) sebagai penguatan atas kebenaran sebuah ucapan.

Mungkin pada semua masyarakat hal-hal iman/kepercayaan menjadi dasar legitimasi suatu pernyataan atau keputusan, dan mereka melakukannya dengan rupa-rupa tanda bahasa atau kode.

Secara umum di Maluku, "cicak bataria" (=suara cecak) dijadikan pembenaran suatu informasi/pembicaraan.

Pada musim omba, di Aru, bila ada rencana berlayar dan "bakumalawang ombak ka seng" (=besok lautan berombak atau tidak) lalu "anjing bagonggong baku balas" (=anjing menggonggong berbalasan) adalah tanda besok lautan tidak berombak.

Itu tanda-tanda pembenaran. Karena hal-hal itu terjadi berulang maka tanda itu diyakini sebagai pembenaran.

Satu lagi yang memperlihatkan tingkat "bakumalawang sampe seng tau sapa batul" (=berantahan sampai tidak tahu siapa yang benar) yaitu "kalu Tuhan dua, se satu, beta satu" (=bila Tuhan ada dua, satu buatmu, satunya buat saya).

Ini menandakan hampir pasti kebenaran dipertahankan masing-masing pihak, dan tidak ada yang mengalah.

Bahkan sering ungkapan ini diucapkan dalam kondisi dimana seseorang "seng mau mangaku salah" (=tidak mau mengaku salah) karena tidak mau "dapa tuduh/jang batuduh sasabarang" (=dituduh).

Jadi ungkapan itu menjadi semacam "baku taru keyakinan" (=adu kepercayaan) sebagai cara terakhir "bakumalawang tar ujung pohong" (=berbantahan tak jelas duduk perkaranya) atau "bakumalawang sampe aer masing karing" (=berbantahan sampai air laut mengering).

Orang yang benar dalam hal-hal "bakumalawang" itu ada yang suka pula mengucapkan: "sudah jua, kalu memang Tuhan ada dua, ambel dua-dua par ale jua" (=kalau Tuhan ada dua, ambil keduanya menjadi milikmu) sebab "itu Tuhan kesia-siaan".

Bagi orang seperti ini, kebenaran itu bersumber dari Tuhan yang satu sebagai Tuhan yang "tau beta pung hati" (=mengetahui isi hatiku).

Ingatlah bahwa kebenaran itu bersumber dari rahim kehidupan sehingga kebenaran itu tetap akan muncul, bangkit, tumbuh, hidup, berkembang. (*)

#Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)

Editor: Fandi Wattimena
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved