Breaking News:

Global

Rusia Ancam Balas Sanksi yang "Tak Bisa Dihindari" AS

Rusia juga sudah memanggil duta besar AS untuk Moskwa, John Sullivan, seperti yang dilansir dari AFP pada Kamis (15/4/2021).

AFP/Alexei Druzhinin/ SPUTNIK/AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di negara tersebut terkait wabah koronavirus di kediaman Novo-Ogaryovo di luar Moskow pada 25 Maret 2020. 

MOSKWA, TRIBUNAMBON.COM - Juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova mengatakan pada Kamis (15/4/2021) bahwa Rusia akan memberi balasan yang "tak bisa dihindari" Amerika Serikat (AS) atas sanksi yang diberikan.

Rusia juga sudah memanggil duta besar AS untuk Moskwa, John Sullivan, seperti yang dilansir dari AFP pada Kamis (15/4/2021).

AS pada Kamis pagi waktu setempat, mengumumkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan pengusiran 10 diplomatnya sebagai pembalasan atas dugaan campur tangan pemilu AS, serangan siber besar-besaran, dan aktivitas permusuhan.

"AS tidak belum siap untuk menerima kenyataan secara obyektif bahwa ada dunia multipolar yang menolak hegemoni Amerika," ujar Zakharova dalam siaran televisi.

"Kami telah berulang kali memperingatkan AS tentang konsekuensi langkah permusuhan, yang secara berbahaya meningkatkan tingkat konfrontasi antara negara kita," ungkapnya.

"Tanggapan terhadap sanksi (Rusia) tidak bisa dihindari," tambahnya.

Zakharova juga mengatakan Kementerian Luar Negeri Rusia telah memanggil Duta Besar AS Sullivan untuk pembicaraan yang katanya "akan sulit untuk pihak Amerika". Sanksi AS muncul setelah ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan pasukan Rusia mengerumuni perbatasannya dengan Ukraina dan sekutu Barat, Kiev, meminta Moskwa untuk mundur.

Hubungan kedua negara ini sudah jatuh sejak bulan lalu, ketika Presiden AS Joe Biden setuju untuk mendeskripsikan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai "pembunuh".

"Washington harus menyadari bahwa ia harus membayar untuk degradasi hubungan bilateral," kata Zakharova, Kamis (15/4/2021).

"Tanggung jawab atas apa yang terjadi sepenuhnya terletak pada Amerika Serikat," ucapnya.

Hubungan telah jatuh bebas sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina dan pertempuran meletus antara pasukan Kiev dan separatis pro-Rusia di timur.

Amerika Serikat selama bertahun-tahun sejak itu menyerang Rusia dengan serangkaian sanksi termasuk atas dugaan peretasan pemilihan presiden 2016 dan pemenjaraan kritikus Kremlin Alexei Navalny baru-baru ini.

(Kompas.com / Shintaloka Pradita Sicca)

Editor: Adjeng Hatalea
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved