Cegah Stunting, Kemendagri Pilih Maluku Jadi Tuan Rumah Workshop Konvergensi
Dirjen Bangda Kemendagri, Hari Nur Cahya Murni mengatakan, Maluku menjadi satu di antara prioritas sebagai lokasi penyelenggaraan workshop
Berkaitan dengan pelaksanaan Workshop Konvergensi Stunting, dia juga menyampaikan apreasiasi kepada Ditjen Bangda atas dukungan dan perhatiannya dalam memantau secara langsung lokus stunting di Maluku.
"Saya berharap, melalui aksi konvergensi pencegahan stunting oleh pemerintah pusat dapat menurunkan angka prevalensi stunting di wilayah Timur Indonesia termasuk di Maluku," ujarnya.
Program Duta Parenting Maluku

Sementara itu, Duta Perangi Stunting (Parenting) Maluku, Widya Pratiwi Murad Ismail menjelaskan, sejak dilantik sebagai Duta Parenting, pihaknya selalu mendorong pelaksanaan aksi Konvergensi melalui OPD-OPD terkait yang dikoordinir oleh Bappeda.
Widya juga menjelaskan, Provinsi Maluku telah mengukuhkan para Ketua TP. PKK Kabupaten/Kota sebagai Ibu Parenting yang dikenal dengan sebutan bahasa daerah ‘Ina Parenting’.
Baca juga: Gubernur Maluku Beri Bantuan Kartu Maluku Cerdas kepada Masyarakat Buru Selatan
Semua daerah di Maluku memiliki Ina Parenting dengan sebutan khas daerah masing- masing.
Mulai dari Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, dan Buru Selatan.
Misalnya, Mama Parenting untuk Kota Ambon; Renad Parenting untuk Kota Tual, Nina Parenting untuk Seram Bagian Timur, Asnib Parenting untuk Maluku Tenggara, Jinang Parenting untuk Kabupaten Kepulauan Aru, Enang Parenting untuk Kabupaten Tanimbar, dan Ngina Parenting untuk Kabupaten Buru.
"Ibu Parenting berarti ibu yang mengasuh anaknya, Parenting juga kepanjangan dari Perangi Stunting, artinya ibu-ibu yang bertugas di daerah masing-masing untuk memerangi stunting," jelas Widya.
Sebagai Duta Parenting, Ina Latu Maluku, Ibunya anak-anak Maluku, Widya juga mengatakan, bersama-sama dengan OPD terkait telah mengunjungi anak-anak di lokus stunting untuk melihat langsung permasalahan yang dialami.
Di tahun 2019, kata Widya dirinya telah mengunjungi desa lokus stunting di Seram Bagian Barat, Maluku Tengah dan Kepulauan Aru.
Pada tahun 2020 saya telah mengunjungi desa-desa lokus stunting di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku Barat Daya dan Maluku Tenggara.
Dari kunjungan-kunjungan tersebut, terdapat sejumlah permasalahan yang umumnya dialami oleh masyarakat di desa-desa lokus stunting.
Di antaranya, masalah ketersediaan air, pernikahan dini, kepemilikan jaminan kesehatan, dan masalah sanitasi termasuk ketersediaan jamban sehat.
“Yang membuat saya merasa sedih, sebenarnya masyarakat Maluku memiliki sumber daya alam yang cukup."