Melihat Barapen, Tradisi Bakar Batu Ala Mahasiswa di Ambon
Seperti yang dilakukan mahasiswa asal Papua di Kota Ambon ini, menggelar Barapen atau tradisi Bakar Batu.
Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Fandy
TRIBUNAMBON.COM - Masyarakat Papua dikenal sangat menjunjung tinggi tradisi adat turun temurun.
Ke manapun berada, ciri khas hingga tradisi selalu dibawa serta.
Tidak hanya di Papua, di tanah rantau sekalipun tidak menyurutkan pelaksanaannya.
Seperti yang dilakukan mahasiswa asal Papua di Kota Ambon ini, menggelar Barapen atau tradisi Bakar Batu.
Berbekal patungan atau urunan uang ala mahasiswa, mereka menyiapkan berbagai bahan untuk melakukan Barapen.
• Universitas Pattimura Ambon Luluskan 10 Dokter Muda, Rektor Pesan Ini ke Bupati Wali Kota
Di antaranya umbi-umbian, seperti keladi, patatas, singkong dan jagung.
"Harusnya daging fam (babi, Red), tapi kita ganti dengan ayam karena hadir juga teman salam (Muslim, Red)," kata Natan Wea, seorang mahasiswa tingkat akhir kepada TribunAmbon.com, Rabu (30/9/2020) sore.
Dari uang yang terkumpul, mereka membeli 30 ekor ayam kampung serta sayuran, seperti daun singkong dan kangkung.
Untuk umbi-umbian didapat gratis dari kebun sendiri di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon.
Sementara tempat pelaksanaan Barapen, dipilih bantaran sungai Wayame dengan pertimbangan di kawasan tersebut cukup mudah mendapatkan material batu sebagai bahan bakar utama.
Termasuk kayu bakar serta dedaunan pembungkus bahan pangan.
Menurut Natan, persiapan acara terhitung lama karena ini menjadi kali pertama di Tradisi Bakar Batu ala mahasiswa dilaksanakan di Kota Ambon.
"Kurang lebih dua pekan persiapan, mulai dari pengumpulan uang, penyiapan bahan hingga tempat yang tepat," ungkapnya.
Tata Ritual Barapen
• Mengenal 3 Kampung Tangguh Lawan Covid-19 di Ambon, Perkuat Ekonomi Rakyat dari Sektor Perikanan
Rabu pagi sekitar pukul 10.00 WIT, para mahasiswa sudah berkumpul dilokasi.
Mereka dibagi kelompok untuk menyiapkan kebutuhan acara.
Di antaranya menyiapkan bebatuan, kayu bakar serta liang untuk pembakaran batu.
Acara pun dimulai, liang sedalam 25 sentimeter lebih dulu dialasi daun pisang dan alang-alang.
Barulah kemudian batu panas dimasukkan, menyusul ubi-ubian, daging serta bahan lainnya.
"Setelah ubi-ubian, batu dimasukan lagi, kemudian ditutup dengan daun pisang, baru ditumpuk lagi dengan sayuran bersamaan dengan daging ayam," keta dia.
"Setelah itu, di atasnya ditutupi lagi dengan dedaunan barulah ditimpa dengan batu serta dedaunan kering" jelas mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Papua di Ambon itu.
Lanjutnya, untuk mempercepat pematangan, tumpukan terakhir biasanya digunakan daun kering dan kayu bakar untuk selanjutnya dibakar.
"Dibutuhkan waktu hingga dua jam sampai semua bahan matang sempurna, sembari menunggu, para perempuan menyiapkan bumbu sambal untuk menambah cita rasa pedas," ujarnya.
Kurang dari pukul 14.00 WIT, tumpukan pembakaran dibongkar, pesta makan pun dimulai.
• Tradisi Ziarah Masih Melekat pada Masyarakat Ambon di Tengah Pandemi, Berkah Bagi Penjual Bunga
Adapun tradisi bakar batu menjadi satu di antara tradisi utama masyarakat Papua sebagai wujud rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan.
Dalam pelaksanaannya selalu bergotong royong untuk mempererat kekeluargaan dan kebersamaan diantara mereka.
"Begitupun dirantau, tradisi ini untuk mempererat hubungan persaudaraan kami serta kebersamaan dengan mahasiswa lainnya yang bukan asal Papua," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/mahasiswa-asal-papua-di-kota-ambon-menggelar-barapen-atau-tradisi-bakar-batu.jpg)