Selasa, 5 Mei 2026

News

Rupiah di Ujung Tekanan, Risiko Tembus Level Terlemah Kian Nyata

Rupiah masih tertekan akibat minim sentimen positif dan tekanan global, terutama konflik Timur Tengah serta penguatan dolar AS.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah masih tertekan akibat minim sentimen positif dan tekanan global, terutama konflik Timur Tengah serta penguatan dolar AS.
  • Data S&P Global menunjukkan PMI Indonesia turun ke 49,1, menandakan kontraksi sektor manufaktur.
  • Ekonom Josua Pardede memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.250–Rp17.500 per dolar AS, dengan risiko pelemahan lanjutan masih terbuka.

TRIBUNAMBON.COM-Pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan akibat minimnya sentimen positif, baik dari faktor eksternal maupun domestik.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah 57 poin ke level Rp17.394 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.353.

“Hari ini rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, namun tetap ditutup melemah di kisaran Rp17.390 hingga Rp17.440,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Menurut Ibrahim, tekanan eksternal masih didominasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk dinamika di Selat Hormuz serta kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait isu pelayaran dan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Baca juga: 461 Jamaah Haji Ambon Dilepas, Bodewin Minta Doakan Kota Tetap Aman, Damai dan Sejahtera

Baca juga: Perpustakaan Keliling Disperpus Malteng Diminta Rutin Sambangi Sekolah di Telutih Tiap 2–3 Bulan

Di sisi domestik, kinerja sektor manufaktur turut menambah tekanan. Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026, menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai rupiah masih rentan dalam jangka pendek.

“Arah rupiah masih rapuh, meski ada peluang penguatan terbatas jika harga minyak dan dolar AS melemah,” ujarnya.

Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.250 hingga Rp17.500 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Namun, risiko pelemahan lanjutan tetap terbuka, terutama jika harga minyak melonjak di atas US$110–115 per barel dan indeks dolar menguat.

Ia bahkan mengingatkan potensi rupiah menguji level terlemah baru. Sebaliknya, jika tekanan global mereda, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.200 per dolar AS.

Untuk akhir Mei 2026, Josua memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp17.200 hingga Rp17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp17.300.

Menurutnya, ada empat faktor utama yang membebani rupiah, yakni tingginya harga minyak akibat konflik Timur Tengah, kebijakan suku bunga AS yang ketat, tekanan fiskal domestik akibat subsidi energi, serta tingginya kebutuhan dolar untuk impor dan pembayaran luar negeri.

Selain itu, faktor domestik seperti kekhawatiran defisit transaksi berjalan dan arus modal asing yang belum stabil juga memperkuat tekanan. Data Bank Indonesia mencatat pada kuartal I 2026 terjadi arus keluar bersih investor asing sekitar US$1,78 miliar dari pasar domestik.(*

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved