Ambon Hari Ini
Harga BBM Melonjak, Mahasiswa Unpatti Ambon Ini Ngeluh Ongkos Rutinitas Membengkak
BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter.
Penulis: Maula Pelu | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Iky Rumata, seorang mahasiswa asal Leihitu, Maluku Tengah, yang berkuliah di Universitas Pattimura, Kota Ambon mengaku turut merasakan dampak dari kenaikan BBM.
- Diakui, bahwa pengeluaran untuk membeli BBM kini menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.
- Awalnya pengeluaran untuk BBM sekali isi bisa digunakan hingga 3-4 hari. Namun saat ini bisa bertahan hanya 2 hingga 3 hari saja.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang melambung lebih dari 30 persen pada Selasa malam (9/6/2026) mulai dikeluhkan masyarakat Maluku.
BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter.
Sementara Pertamax Green 95, naik menjadi Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900 per liter.
Tentu kenaikan harga ini, para pengendara yang bergantung pada Pertamax harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk aktivitas sehari-hari.
Baik itu para pekerja pemerintah, swasta, ojek online (ojol), atau mahasiswa sekali pun.
Salah satunya seperti yang dirasakan Iky Rumata, seorang mahasiswa asal Leihitu, Maluku Tengah, yang berkuliah di Universitas Pattimura, Kota Ambon.
Diakui, bahwa pengeluaran untuk membeli BBM kini menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.
Awalnya pengeluaran untuk BBM sekali isi bisa digunakan hingga 3-4 hari. Namun saat ini bisa bertahan hanya 2 hingga 3 hari saja.
“Dulu sekali isi motor sudah cukup untuk beberapa hari. Sekarang harus tambah lagi uang untuk BBM,” keluhnya saat ditemui Selasa (16/6/2026).
Baca juga: Masyarakat Adat Huaulu Protes! Penetapan Kawasan Taman Manusela Dinilai Serobot Ruang Hidup
Baca juga: Kejari Maluku Tengah Lelang Mobil dan Motor Rampasan, Harga Mulai Rp2 Juta Hingga Rp69 Juta
Walaupun harga BBM menguras kantongnya, ia belum siap beralih ke BBM Subsidi.
Hal ini bukan tanpa alasan, Iky mengakui khawatir jika berdampak pada mesinnya, dan dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang.
“Pertamax buat motor seperti ringan larinya. Banyak juga teman-teman yang mengeluh kalau Pertalite ketika dipakai terasa motor lari sedikit lebih berat. Takutnya berdampak pada lainnya dan biaya perbaikan lebih besar,” sambungnya.
Tentu kenaikan harga ini tegasnya, dikhawatirkan bukan hanya dirasakan pada dirinya, namun berbagai pihak seperti mata rantai di Maluku sebagai daerah kepulauan yang masih mengandalkan transportasi yang menggunakan BBM.
Selain menambah biaya perjalanan, dikhawatirkan harga kebutuhan pokok akan ikut mengalami kenaikan.
Maka dari itu diharapkan agar ada penurunan harga yang normal.
“Kami yang mahasiswa saja terasa, apalagi para pekerja lainnya. Harapan harga BBM turun agar tidak berdampak luas,” tutupnya. (*)
| BBM Naik Harga, Bodewin Wattimena Pastikan Tetap Koordinasi Amankan Stok |
|
|---|
| Kenaikan BBM Picu Penyusutan Produksi Tahu Tempe, Pedagang: Kami Kurangi Ukuran |
|
|---|
| Kenaikan Harga BBM Jadi Tantangan Baru di Ambon, Pengusaha Muda Minta Jamin Pasokan |
|
|---|
| Pengurus HIPMI Maluku Dilaporkan ke Polisi, Nelayan SBT Klaim Zulkifli Belum Bayar Hak Rp37,8 Juta |
|
|---|
| REPDEM Maluku: Kenaikan BI-Rate dan Harga Pertamax Jangan Jadi Beban Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Pombens.jpg)