Pemda Malteng
Pemuda dan Gerakan RT Mengaji Jadi Spirit 'Obor Perubahan' Pemuda Tehoru di Maluku Tengah
Pemuda dan Gerakan RT Mengaji (GERAM) jad spirit obor perubahan Pemuda di Negeri Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (4/10/2025)
Penulis: Silmi Sirati Suailo | Editor: Fandi Wattimena
Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MASOHI,TRIBUNAMBON.COM - Pemuda dan Gerakan RT Mengaji (GERAM) jad spirit obor perubahan Pemuda di Negeri Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah.
Gerakan RT Mengaji (Geram) digagas oleh sekelompok anak muda. Suatu gerakan spiritual yang menjadi tanda "obor perubahan" bagi generasi muda Tehoru.
Demikian ungkapan Koordinator GERAM, Dafe Silawane, Kepada TribunAmbon.com, Selasa (4/11/2025).
Ia menjelaskan, gerakan ini lahir dari perenungan panjang para pemuda, dimana kehidupan mereka lebih banyak diwarnai dengan berbagai macam kenakalan.
"Pemuda-pemuda yang sering dianggap sebagai biang kerok tumbuh kembangnya kejahatan di lingkungan tempat tinggal mereka," tukas Silawane.
Ia mengaku, GERAM adalah aksi nyata yang bertujuan sebagai bentuk perlawanan terhadap kenakalan.
Gerakan ini dipusatkan di beberapa RT yang manjadi titik sentral kenakalan.
Baca juga: Jelang HUT Brimob ke-80, Personel Kompi 3 Yon B Pelopor Tebar Kebaikan Lewat Aksi Sosial
Baca juga: Kolaborasi BPKW XX dan Pemda Malteng, Sukses Semarakkan Malam Perayaan HUT ke-68 Kota Masohi
"Sudah 4 bulan kegiatan pengajian berjalan, dan ghiroh para santri semakin membara, hujan lebat serta padamnya Listrik tak dapat menghentikan langkah kaki mereka menuju rumah pengajian," ungkapnya.
Ditambahkan, setiap malam setelah selesai ibadah Shalat Isya lantunan ayat-ayat suci Al-Quran mulai diperdengarkan meskipun dengan bacaan yang masi terbata-bata.
"Gerakan RT Mengaji melahirkan beberapa kelompok pengajian diantaranya: Santri Deker, Todam Mengaji, Opha Gank Santri, Waewalata mengaji dan Santorini Santri," ungkap Dafe Silawane.
Kegiatan Gerakan RT Mengaji dilakukan dengan menggunakan metode Iqro sebagai sarana pembelajaran bagi santri. Setelah pembelajaran selesai dilanjutkan dengan diskusi ringan yang lebih cenderung pada evaluasi bacaan serta pengembangan akhlak dan moral para santri.
Tidak hanya sampai di situ, GERAM beberapa kali telah mengundang para pengasuh dari pondok pesantren Al-Hidayah Masohi, pondok pesantren Tahfidz Madinatul Qur'an dan Rumah Qur'an Maratus Sholehah diantarnya Al-Ustad Iwan Tuahan, Ustadz Sadam Samal dan juga Ustadz Salman Lilihata.
"Tujuannya untuk memberikan hikmah serta motivasi kebaikan kepada para santri yang melibatkan semua kelompok pengajian serta pembelajaran Tahsin ( pengucapan huruf-huruf Hijaiyah sesuai dengan Makrojz dan Sifatnya)," cetusnya.
Gerakan inipun mendapat sorotan dan dukungan, dari masyarakat luas tidak hanya dari masyarakat lokal tetapi juga relawan kemanusiaan dan Kantor Urusan Agama kecamatan Tehoru. Dukungan itu dibuktikan dengan pembagian wakaf Qur'an, serta keterlibatan KUA Kecamatan Tehoru sebagai tenaga pengajar.
Bagi mereka gerakan RT Mengaji menjadi wadah pembelajaran dan bekal kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik. Gerakan RT Mengaji menjadi "Ruh" perjuangan menuju masa depan generasi Tehoru yang lebih baik.
Hamis Mahu salah satu Santri Deker mengatakan, mengaji ini bukan soal tidak bisa membaca dan bisa membaca, tetapi ini soal kewajiban sebagai umat nabi Muhammad Saw.
Hal yang sama juga disampaikan oleh panglima Santri Deker, Agung Satria Suhadi.
"Lebih baik tidak bisa mengaji tetapi ingin belajar dari pada bisa mengaji namun jarang membaca Al-Qur'an," cetus Agung.
Agung berpendapat, bahwa Gerakan RT Mengaji harus dijadikan sebagai sebuah tradisi kebaikan di Tehoru yang berkepanjangan dan tidak boleh terputus. Sehingga ke depan gerakan seperti ini bisa menjadi "Role Model" bukan saja untuk wilayah Tehoru tetapi juga negeri-negeri tetangga di semenanjung Seram Selatan.
Siang bekerja malam beramal, barangkali kalimat ini menjadi gambaran keadaan para santri saat ini. Di siang hari mereka dituntut bekerja menafkahi keluarga di malam hari mereka kembali melafatkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Untuk menjadi manusia sempurna bukanlah sebuah kepastian, tetapi berusaha menjadi manusia baik dan berguna adalah keharusan. Boleh jadi hari kemarin mereka dianggap sebagai "Masalah" hari ini dan seterusnya mereka dianggap sebagai "Solusi". (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Gerakan-RT.jpg)