Senin, 13 April 2026

Inflasi Tertinggi di Maret 2024, Malteng Catatkan Kenaikan 5,07 Persen, Ini Respons Dinas Perindag

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku Tengah, Erny Rahman, memastikan bahwa fluktuasi harga ini bertepatan dengan momen bulan puasa.

|
Silmi Sirati Suailo
INFLASI MALTENG - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Maluku Tengah, Erny Rahman saat diwawancarai di Masohi, Rabu (9/4/2025). 

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo  

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) tercatat sebagai penyumbang inflasi tertinggi di Maluku secara year on year (y-o-y), dengan angka sebesar 5,07 persen pada rilis Maret 2025 yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Maluku Tengah, Erny Rahman, memastikan bahwa fluktuasi harga ini bertepatan dengan momen bulan puasa dan Lebaran.

"Jika dibandingkan dengan tahun lalu, inflasi tahun kemarin tidak bertepatan dengan bulan puasa dan Lebaran," ujar Erny kepada TribunAmbon.com, Rabu (9/4/2025).

"Tahun ini, harga barang sudah cukup tinggi."

Meskipun harga meningkat, Erny memastikan stok barang tetap tersedia dan terjaga.

Baca juga: Sepekan Pasca Lebaran, Harga Cabai Rawit di Masohi Masih Mahal, Rp. 90 Ribu Per Kilo

Baca juga: Bantah Klaim Gadis Kainama Soal Utang Rp 200 Juta, Kuasa Hukum: Kita Buktikan di Pengadilan

"Kami berharap stok tetap ada, meskipun harga lebih mahal, yang penting barang tetap bisa dibeli," tambahnya.

Erny menjelaskan bahwa inflasi bukan hanya soal harga yang naik, tetapi juga mencerminkan tren kenaikan harga yang berlanjut dalam jangka waktu tertentu.

"Orang hanya melihat dari sisi harga, tetapi kami lebih melihat dari sisi perdagangan," imbuhnya.

Harga yang tinggi di pasaran, menurutnya, dipengaruhi oleh kondisi momen-momen besar seperti Lebaran.

"Inflasi menjadi indikator bagi Dinas Perdagangan untuk mengetahui bahwa harga barang memang tinggi, namun stok tetap terjaga," ungkap Erny.

Erny berharap setelah Lebaran, pasokan barang dari luar daerah maupun dari dalam daerah dapat masuk untuk menstabilkan harga dan menurunkan inflasi di bulan berikutnya.

"Kami berharap setelah Lebaran, stok akan masuk, baik dari luar daerah maupun dalam daerah, untuk menekan inflasi,” jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, tetap melakukan koordinasi untuk menekan inflasi.

"Misalnya, bawang merah sedang tinggi harganya, tetapi panen bawang merah dilakukan pada 13 Maret lalu. Artinya, setelah panen harga barang bisa ditekan," terang Erny.

Pihaknya terus berkoordinasi memastikan bahwa jika tidak ada produksi di Masohi, pedagang dari luar dapat menyuplai untuk menjaga kestabilan harga barang.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved