Nilai Rupiah Anjlok Rp 16.641 Per Dolar AS, Posisi Terendah Sejak Krisis Moneter 1998
Nilai rupiah anjlok pada Selasa (25/3/2025) pukul 9.41 WIB di pasar spot. Nilai tukar rupiah per dolar AS sebesar Rp 16.641.
TRIBUNAMBON.COM – Nilai rupiah anjlok pada Selasa (25/3/2025) pukul 9.41 WIB di pasar spot.
Nilai tukar rupiah per dolar AS sebesar Rp 16.641.
Mirisnya, nilai tukar rupiah hampir sama dengan rekor terendah rupiah di tahun 1998.
Rekor terendah rupiah pada 17 Juni 1998 di level Rp 16.650, saat itu Indonesia dilanda krisis moneter.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan, rupiah dalam perdagangan hari ini terus mengalami pelemahan.
Hingga pada pukul 12.23 WIB di level Rp 16.600-an. Ibrahim menyebut, terdapat faktor dari luar dan dalam negeri yang menyebabkan anjloknya nilai tukar.
Baca juga: 70 Peserta Ikut Literasi Digital, Pemprov Maluku Dorong Masyarakat Cerdas Adaptasi Dunia Digital
Baca juga: Sadali Ie Serahkan Laporan Keuangan Unaudited ke BPK Maluku
"Geopolitik masih terus memanas, dimana Amerika sudah mengancam terhadap Iran, sudah memberikan satu ultimatum perang atau menghentikan reaktor nuklirnya. Artinya apa? Ini suatu ancaman untuk negara-negara Timur Tengah bahwa Amerika siap melakukan penyerangan terhadap Iran," ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (25/3/2025).
Selain itu, ketegangan terus terjadi di Jalur Gaza. Serangan Israel di sana menuai kritikan dari masyarakat Israel sendiri yang tengah melakukan demonstrasi.
Lalu, faktor lainnya dimana Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengumumkan mengenai kebijakan tarif impor besar-besaran yang dijadwalkan diumumkan pada 2 April.
Paket tarif yang akan diumumkan pada 2 April akan berfokus pada tarif resiprokal, yaitu tarif yang ditentukan berdasarkan kebijakan perdagangan negara mitra terhadap produk AS.
"Ini yang memberatkan pasar. Memberatkan pasar sehingga harga-harga akan kembali mengalami kenaikan," kata Ibrahim.
Sedangkan dari dalam negeri, faktor-faktor yang mempengaruhi anjloknya nilai tukar, yakni soal pengumuman Danantara, pernyataan Presiden Prabowo Subainto bahwa saham adalah judi, hingga membuat frustasi para investor.
"Ucapan-ucapan Presiden yang mengatakan bahwa saham adalah judi. Kemudian, efek harga saham jatuh dalam hubungannya dengan masyarakat kelas bawah, dan lain-lain, ini pun juga membuat frustasi bagi para investor sehingga banyak investor asing keluar dari pasar modal Indonesia," tutur Ibrahim.
Kemudian, menurut Ibrahim, pasar modal enggan diintervensi pemerintah. Misalnya, dengan keterlibatan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri yang ikut memantau pergerakan harga saham di Tanah Air saat ini.
"Adanya intervensi pemerintah terhadap mekanisme pasar, terhadap pasar modal sehingga dianggap bahwa ini tidak aman bagi para investor. Investor menginginkan pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu hanya mengawasi saja," ucap Ibrahim.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Melemah, Nyaris Tandingi Rekor Terendah di 1998
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/rupiah-dollar.jpg)