Kamis, 23 April 2026

Maluku Terkini

Desa Sehat Bebas Hipertensi Berbasis RENALA: Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Pesisir

Dalam rangka membantu mengatasi masalah ini, tim pengabdian masyarakat STIKES Pasapua Ambon menginisiasi program Desa Sehat Bebas Hipertensi berbasis

Editor: Fandi Wattimena
Istimewa
Tim pengabdian masyarakat STIKES Pasapua Ambon menginisiasi program Desa Sehat Bebas Hipertensi berbasis RENALA di Negeri Seith, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. 

TRIBUNAMBON.COM - Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang mengancam masyarakat pesisir di Indonesia.

Dikenal sebagai "silent killer," hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, tetapi berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal. Sayangnya, masyarakat pesisir seringkali tidak menyadari bahwa mereka mengidap hipertensi hingga kondisi ini berkembang menjadi lebih parah.

Dalam rangka membantu mengatasi masalah ini, tim pengabdian masyarakat STIKES Pasapua Ambon menginisiasi program Desa Sehat Bebas Hipertensi berbasis RENALA (Rempah Nusantara Lawan Hipertensi).

Program ini dilaksanakan di Negeri Seith, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, dengan tujuan memanfaatkan kekayaan alam rempah Nusantara sebagai alternatif alami untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah hipertensi.

Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada potensi rempah-rempah seperti bawang putih, jahe, kunyit, dan seledri dalam mengatasi hipertensi secara alami.

Latar Belakang Program RENALA

Kondisi geografis dan pola hidup masyarakat pesisir, termasuk di Negeri Seith, membuat mereka rentan terhadap hipertensi. Pola makan tinggi garam turut berkontribusi terhadap tingginya prevalensi hipertensi di wilayah ini.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang secara turun-temurun digunakan sebagai obat alami. Rempah seperti bawang putih, jahe, kunyit, dan seledri terbukti memiliki manfaat dalam menurunkan tekanan darah dan menjaga kesehatan jantung.

Misalnya, bawang putih mengandung allicin, senyawa aktif yang dapat melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Jahe dan kunyit dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan yang dapat melindungi jantung, sedangkan seledri mengandung senyawa yang membantu mengatur tekanan darah.

Program RENALA ini lahir dari gagasan untuk menggabungkan potensi rempah-rempah Nusantara dengan edukasi masyarakat agar mereka lebih sadar akan pentingnya menjaga tekanan darah tetap normal.

Masyarakat diajak untuk mengenal lebih dalam manfaat rempah-rempah serta cara praktis mengolahnya sebagai bagian dari terapi komplementer untuk hipertensi.

Pelaksanaan Program RENALA

Program Desa Sehat Bebas Hipertensi ini dipimpin oleh Dr. Abdul Thalib, S.Kep., Ns., M.Kep, yang bertindak sebagai ketua tim pengabdian masyarakat dari STIKES Pasapua Ambon. Anggota tim terdiri dari Bazrul Makatita, S.Kep., M.Kes, Wildia Nanlohy, S.ST., M.Kes serta Jayanti Djarami, M.Si Apt S.Farm. Selain itu, mahasiswa dari prodi S1 Keperawatan STIKES Pasapua Ambon dan didampingi oleh Yosef M. Karno, S.Kep., Ns., M.Kes, juga turut mendukung pelaksanaan program ini.

Program ini dimulai dengan penyuluhan kepada masyarakat setempat tentang bahaya hipertensi dan pentingnya menjaga pola makan sehat. Selama sesi penyuluhan, masyarakat diperkenalkan pada manfaat rempah-rempah Nusantara, serta bagaimana rempah-rempah ini bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluhan tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga disertai dengan praktik langsung mengolah rempah-rempah menjadi ramuan herbal yang dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah.

Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah pelatihan penanaman tanaman obat herbal. Masyarakat dilatih untuk menanam bawang putih, jahe, kunyit, dan seledri di pekarangan rumah masing-masing. Dengan menanam sendiri rempah-rempah tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat kesehatan, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia serta menghemat pengeluaran rumah tangga.

Hasil Program

Hasil dari program ini sangat positif. Sebelum program dimulai, banyak masyarakat yang belum memahami bahwa rempah-rempah lokal yang biasa mereka gunakan dalam masakan juga dapat berfungsi sebagai pengobatan hipertensi. Setelah mengikuti kegiatan ini, hampir semua peserta mengaku lebih memahami cara memanfaatkan rempah-rempah untuk kesehatan, terutama dalam menurunkan tekanan darah secara alami.

Sebagai contoh, masyarakat diajarkan bahwa bawang putih harus dihancurkan dan dibiarkan selama beberapa menit sebelum diseduh air hangat untuk mengaktifkan kandungan allicin yang efektif menurunkan tekanan darah. Selain itu, mereka juga belajar cara membuat ramuan jahe dan kunyit untuk dikonsumsi secara rutin guna menjaga kesehatan jantung dan mengurangi peradangan.

Salah satu peserta, menyampaikan bahwa program ini sangat bermanfaat bagi keluarganya. “Saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa bawang putih dan jahe bisa membantu menurunkan tekanan darah. Sekarang saya mulai menanam rempah-rempah ini di rumah dan rutin mengkonsumsinya,” ujarnya. Respon positif lainnya juga datang dari perserta lainnya, seorang nelayan setempat, yang mengatakan bahwa program ini membuka wawasannya tentang pentingnya menjaga kesehatan melalui pola makan yang benar.

Dampak Jangka Panjang

Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi dan pentingnya gaya hidup sehat semakin meningkat. Penggunaan rempah-rempah sebagai solusi alami dalam mengatasi hipertensi diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan di tengah masyarakat Negeri Seith dan sekitarnya. Selain itu, dengan adanya pelatihan penanaman tanaman obat herbal, masyarakat dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatan mereka tanpa harus bergantung pada obat-obatan modern yang terkadang sulit diakses.

Tim pengabdian masyarakat STIKES Pasapua Ambon juga berharap agar program ini dapat diadopsi di desa-desa pesisir lainnya di Maluku. Dengan dukungan dari pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan setempat, program ini dapat diperluas dan menjadi bagian dari upaya pencegahan hipertensi di wilayah pesisir Indonesia secara lebih luas.

Dr. Abdul Thalib, S.Kep., Ns., M.Kep, sebagai ketua tim, menyampaikan harapannya agar program ini tidak hanya berdampak pada penurunan angka hipertensi, tetapi juga membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat. "Rempah-rempah Nusantara adalah kekayaan kita yang bisa dimanfaatkan dengan bijak untuk meningkatkan kesehatan. Kami berharap masyarakat dapat terus mengedukasi diri mereka sendiri dan saling mendukung dalam menjaga kesehatan bersama," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved