Ambon Hari Ini

PAUD Sadar Lingkungan: Rumah Belajar dan Mencipta Agen Kebersihan

Tiga hari dalam sepekan, 12 hari dalam sebulan, Ibu dari Anggi Mansino (4,5 Tahun) itu jarang sekali absen ke sekolah.

|
Penulis: Fandi Wattimena | Editor: Tanita Pattiasina
TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena
Suasana belajar di kelas PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Fandi Wattimena

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Menunggui anak di sekolahan jadi aktivitas rutin Utami.

Tiga hari dalam sepekan, 12 hari dalam sebulan, Ibu dari Anggi Mansino (4,5 Tahun) itu jarang sekali absen ke sekolah.

Pukul 08.00 WIT, ibu rumah tangga itu sudah bergegas, mulai dari memandikan, menyiapkan peralatan belajar hingga bekal anak di sekolah.

Rumah keluarga kecil itu berlokasi di Riang, berjarak nyaris 3 km dari sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sadar Lingkungan di Negeri (Desa) Laha, Kota Ambon.

Cukup jauh, namun bagi ibu rumah tangga itu tak jadi soal.

Bukan lantaran sekolah binaan PT. Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal Pattimura itu super murah, melainkan karena kualitas; baik pengajar hingga metode pembelajaran.

CDO PT. Pertamina DPPU Pattimura, Tiara bersama para siswa PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024).
CDO PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, Tiara Chaerani bersama para siswa PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024). (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

Baca juga: Wujud Nyata CSR Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Merauke Dukung Pemberdayaan Perempuan Papua

Baca juga: Edi Mangun: Pendaftar QR Code Pertalite Capai 66.778 Kendaraan di Papua Maluku

Ada pengalaman bersama anaknya yang membuat dirinya yakin PAUD Sadar Lingkungan pilihan tepat tuk putri semata wayangnya itu.

"Suatu ketika saya bersama suami dan Anggi, kita jalan ke MCM. Dalam perjalanan kan kita makan snack gitu, trus kemasannya saya buang lewat jendela mobil. Eh langsung ditegur sama anak. Jangan buang sampah mam, kan harus jaga kebersihan," ceritanya saat ditemui TribunAmbon.com di halaman sekolah, Jumat (5/10/2024).

Menceritakan itu dengan antusiasnya, Utami mengaku bangga melihat sang anak layaknya agen kebersihan lingkungan seperti yang terus dikampanyekan para pengajar PAUD Sadar Lingkungan.

Agen Kebersihan Lingkungan

Serupa suasana kelas belajar PAUD lainnya, ruang seukuran 8 x 8 meter itu riuh dengan tingkah lucu para bocah.

Tingkah emak-emak mengintip proses belajar juga menambah asik suasana.

Melihat lebih dekat ruang kelas yang dibangun menggunakan anggaran dana desa tahun 2017 itu, didapati banyak item dekorasi berbahan sampah.

Pajangan dinding, pot bunga, bingkai foto hingga aneka kreasi juga dari bahan tak terpakai terpajang rapi di etalase.

Juga terdapat sejumlah ecobrick di sudut ruang kelas.

Santi Sainyakit selaku Kepala PAUD Sadar Lingkungan menjelaskan, serupa nama lembaga pendidikan, dekorasi hingga kegiatan belajar berisi muatan kampanye cinta lingkungan.

Bahkan, Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) juga dibayarkan dari hasil menabung sampah.

Dirincikan, setiap orang tua siswa (Nasabah) setiap bulannya diharuskan untuk menabung sampah, mulai dari kertas, botol, kaleng hingga tutup galon.

Rerata setiap bulan setoran sampah berkisar 10 - 25 kg per nasabah.

Jika diasumsikan 10 Kg sampah per nasabah dikalikan 52 (Jumlah Siswa), maka akan terkumpul 520 Kg per bulan dan 3,1 Ton per enam bulan.

Pada bulan ke-6 tabungan diambil dalam bentuk uang, barulah orang tua menyetor biaya SPP sebesar Rp. 120 ribu per siswa, sisanya diberikan kembali kepada para orang tua.

Berikut harga per jenis sampah di Bank Sampah:

·       Botol Plastik Rp. 3.000 per Kg.

·       Tutup Botol Rp. 1.800 per Kg.

·       Tutup Galon Rp. 3.500 per Kg.

·       Kaleng Rp. 1.000 per Kg.

·       Kertas HVS Rp. 1.500 per Kg.

·       Karton Rp. 2.000 per Kg.

Meski dampak terhitung kecil jika dibandingkan produksi sampah se-Kota Ambon yang mencapai 168,2 Ton perhari (DLHP Semester I 2024), namun begitu terasa di lingkungan keluarga.

"Jadinya tidak hanya manfaat lingkungannya, juga meringankan beban orang tua sekaligus membantu orang tua karena uang tabungan juga akan diberikan kembali ke mereka," cetus pengajar lulusan Universitas Pattimura (Unpatti) itu.

Selain itu, juga ada kelas kreatif yang melibatkan siswa dan orang tua, dimana ibu dan anak diberikan tugas untuk membuat karya dari sampah.

Membuat ecobrick salah satunya, dengan target peserta kelas kreatif bisa mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai pakai hingga ekonomis.

Nilci Tane, trainer PAUD Sadar Lingkungan saat menunjukan ecobrick karya siswa dan orang tua, Jumat (5/10/2024).
Nilci Tane, trainer PAUD Sadar Lingkungan saat menunjukan ecobrick karya siswa dan orang tua, Jumat (5/10/2024). (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

Menurut Nilci Tane, pengajar yang juga Trainer bersertifikasi internasional (Global Ecobrick Aliance), tugas hingga metode pembelajaran di PAUD Sadar Lingkungan menjadi efektif karena pengajar mencontohkan setiap harinya dan melibatkan orang tua dalam proses.

Nilai edukasi dan agitasi yang berulang dalam lingkungan sekolah diyakini efektif memunculkan kesadaran anak sejak dini dan orang tua auto menjadi bagian dalam upaya itu.

Harapannya sederhana, siswa dan orang tua menjadi agen kebersihan di lingkungan masing-masing.

CSR PT. Pertamina - Learning Centre Pendidikan lingkungan

Masih menyoal ecobrick, solusi penangan sampah tak terurai itu pun jadi pembahasan di lingkungan PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura.

Hal itu mengingat Segel Bridger tangki Avtur bekas pakai cukup banyak.

Meski belum ada data resmi total berat sampah tak terurai itu dalam periode tertentu, namun langkah antisipasi telah dilakukan, yakni menjadikannya ecobrick.

Beberapa kilo sampah segel bridger pun sampai ke tangan pengajar PAUD Sadar Lingkungan untuk diolah menjadi ecobrick.

CSR PAUD 7
Sampah segel Bridger yang diolah jadi Ecobrick (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

Hanya saja para pegiat lingkungan itu kemudian menghadapi kesulitan untuk menghancurkan segel yang terbuat dari plastik padat itu menjadi potongan kecil.

"Gunting rusak, hingga tangan ini lecet," ujar Nilci menunjukan gunting yang rusak itu.

Tak berputus asa, kondisi itu malah berbuah inovasi dengan hadirnya Oplas 452, yaitu alat pencacah plastik dengan memanfaatkan putaran sepeda yang ditenagai manusia.

Menurut Community Development Officer (CDO) PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura, Tiara Chaerani, alat pencacah itu efektif menghancurkan segel bridger yang bahannya cukup keras.

Salah satu masalah sampah di lingkungan kerja pun teratasi sekaligus memudahkan upaya kreatif pengajar PAUD Sadar Lingkungan.

Dijelaskannya, inovasi tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura untuk Community Development.

Foto bersama siswa, CDO PT. Pertamina DPPU Pattimura dan pengajar PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024).
Foto bersama siswa, CDO PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura dan pengajar PAUD Sadar Lingkungan, Jumat (5/10/2024). (TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena)

2024 ini adalah tahun kelima pemberdayaan, secara kelembagaan PAUD Sadar Lingkungan sudah cukup kuat, baik pengajar dengan sertifikasi hingga kelembagaan yang terakreditas B.

Namun, diakuinya secara finansial masih jauh dari mapan, sehingga per 2023, fokus pemberdayaan dirubah dari karikatif menjadi kewirausahaan sosial.

Produksi ecobrick, bank sampah, hidroponik hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengurangi beban keuangan pun dikondisikan PT. Pertamina Patra Niaga AFT Pattimura.

Harapannya sederhana, PAUD Sadar Lingkungan kuat kelembagaan, mandiri secara finansial dan menjadi Learning Centre untuk pendidikan lingkungan.

"Harus jadi Learning Centre untuk pendidikan lingkungan," tandas Tiara. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved