Breaking News:

Ambon Hari Ini

Warga Ambon Harus Waspadai Jamu yang Mengandung Bahan Kimia, Ada Temuan!

Balai Pengawasan Obat ( BPOM ) mengimbau masyarakat Kota Ambon mewaspadai kandungan bahan kimia obat (BKO) dalam jamu yang beredar.

TribunAmbon.com / Mesya
AMBON: Kepala BPOM Ambon, Hermanto mengimbau masyarakat Kota Ambon mewaspadai kandungan bahan kimia obat (BKO) dalam jamu yang beredar. 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Balai Pengawasan Obat ( BPOM ) mengimbau masyarakat Kota Ambon mewaspadai kandungan bahan kimia obat (BKO) dalam jamu yang beredar.

Kepala BPOM Ambon Hermanto mengatakan, ketika membeli obat tradisional, masyarakat harus mengecek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa.

Pasalnya pihaknya menemukan satu produk jamu mengandung BKO.

“Isu jamu mengandung BKO atau Bahan Kimia Obat juga masih menjadi perhatian. Data hasil pengujian Balai POM Ambon, di Provinsi Maluku masih ditemukan 1 produk jamu yang mengandung BKO koffein,” kata Hermanto.

Lanjutnya, untuk penelusuran kasus juga ditemukan tiga sampel obat tradisional yang mengandung BKO.

Yakni, sibutramin pada jamu pelangsing serta metformin dan glibenklamid pada jamu antidiabetes.

Dijelaskannya, BKO tak boleh ada dalam obat tradisional lantaran sangat berbahaya. Bahkan bisa mengancam jiwa.

“Sedangkan pada penelusurun kasus, ditemukan 3 sampel OT yang mengandung BKO yaitu sibutramin pada jamu pelangsing serta metformin dan glibenklamid pada jamu antidiabetes. Senyawa BKO tidak boleh terkandung pada obat tradisional karena dapat membahayakan dan tidak terukur dosis penggunaannya serta dapat mengancam jiwa,” jelasnya.

Baca juga: Cabor Kempo Seram Bagian Barat Raih 12 Medali di Popmal 2022

Hermanto menjelaskan, sejauh ini Badan POM RI telah mengeluarkan Public Warning terhadap 1094 produk OT dan suplemen yang mengandung BKO. 

Badan POM juga telah mengembangkan aplikasi BPOM mobile dan aplikasi e-Public Warning Obat tradisional. 

Hermanto berharap, warga lebih waspada dalam membeli obat tradisional termasuk jamu kemasan yang beredar di masyarakat.

“Diharapkan masyarakat pada era digital ini dapat berperan aktif dalam membentengi diri dan keluarganya dari produk obat dan makanan yang membahayakan kesehatan dengan mengakses informasi dan melakukan pindai atau scan 2D barcode pada label produk sebelum berbelanja dengan aplikasi tersebut pada smartphone,” tandasnya. (*) 

Sumber: Tribun Ambon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved