Breaking News:

Nasional

Perang Rusia-Ukraina Lemahkan Ekonomi Global, Jokowi: Indonesia di 2023 akan Semakin Gelap

Jokowi mengatakan, beberapa dampak yang dirasakan oleh Indonesia dan dunia akibat perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung usai ini, seperti krisis e

Editor: Adjeng Hatalea
Ist
Presiden Jokowi kunjungi Pasar Olilit, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Jumat (2/9/2022). Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ekonomi global melemah di 2023 berdampak pada krisis pangan di Indonesia. 

JAKARTA, TRIBUNAMBON.COM – Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengatakan, ekonomi global melemah di 2023 berdampak pada krisis pangan di Indonesia.

Jokowi mengatakan, beberapa dampak yang dirasakan oleh Indonesia dan dunia akibat perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung usai ini, seperti krisis energi, pangan, dan finansial akan membebani pergerakan ekonomi di tahun 2023.

“Itu akan berakibat pada kesulitan lain, seperti krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, Covid-19 yang belum pulih, dan akibatnya kita tau sekarang ini saja 19.600 orang mati karena kelaparan, karena krisis pangan,” kata Jokowi di ICE – BSD, Senin (26/9/2022).

Dia menyebutkan, perang Rusia-Ukraina masih akan berlangsung lama.

Kesimpulan itu menurut Presiden, setelah dirinya bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy  dan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu.

“Saya bertemu dengan Presiden Zelenskyy dan satu setengah jam berdiskusi, serta presiden Putin dua setengah jam berdiskusi, saya menyimpulkan perang tidak akan segera selesai, akan lama,” katanya.

Menurut Jokowi, dengan konflik Rusia dan Ukraina yang terus berlangsung ini akan berdampak pada negera lainnya.

Ia memperkirakan, tahun 2023 ekonomi dunia akan semakin gelap sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak Ferbruari 2022.

“Dunia sekarang ini pada posisi yang tidak gampang dan betul-betul sulit di mana tahun depan akan lebih gelap,” lanjut dia.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 berisiko tumbuh lebih rendah ini juga disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Baca juga: Sebanyak 80 hingga 90 Persen Startup Gagal di Awal Merintis, Jokowi; Perhatikan Kebutuhan Pasar

Pelambatan pertumbuhan perekonomian global ini terutama terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh 2,1 persen tapi tahun depan diperkirakan hanya tumbuh 1,5 persen.

“Tahun depan kami perkirakan turun jadi 2,7 persen bahkan ada beberapa risiko yang menjadikan ke 2,6 persen. Hal ini juga terjadi di Eropa yang pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 2,1 persen, tahun depan lebih rendah menjadi 1,2 persen dan Tiongkok tahun ini tumbuh 3,2 persen dan tahun depan 4,6 persen,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/9/2022) lalu.

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju.

Selain itu, volume perdagangan dunia juga tetap rendah.

Perry mengatakan, faktor yang mendorong pelambatan pertumbuhan ekonomi global 2023 mencakup gangguan mata rantai pasokan global, kebijakan proteksi diberbagai negara, konflik geo politik, dan respons kebijakan suku bunga yang agresif di AS dan sejumlah negara.

 

(Kompas.com / Kiki Safitri / Erlangga Djumena)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved