Breaking News:

Ambon Hari Ini

Pentingnya Kesiapsiagaan Bencana bagi Masyarakat Ambon

Apalagi, lanjut Bodewin, ancaman bencana itu dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, maka diperlukan upaya-upaya kesiapsiagaan di dalamnya.

Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/ Fandi Wattimena
Para siswa terpaksa digendong melintasi melintasi derasnya banjir akibat luapan Sungai Air Sakula, Negeri Laha, Kota Ambon, Selasa (26/7/2022) 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Penjabat Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena mengatakan, Ambon termasuk kawasan yang rawan bencana, diakibatkan terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi.

“Penyebab Ambon rawan bencana karena terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik,” kata Bodewin Wattimena disela-sela kegiatan simulasi mekanisme tanggap bencana banjir dan tanah longsor di Batu Merah Ambon, Senin (19/9/2022).

Ia menjelaskan, pertemuan zona ini bukan saja membentuk zona tumbukan atau subduksi yang dapat menjadi sumber gempa lokal.

Namun, juga sumber gempa lain yang berasal dari Laut Banda dan Samudera Pasifik atau gempa tektonik yang sangat mempengaruhi formasi batuan di Maluku, karakteristik sesar, atau patahan, serta aktivitas gempa bumi.

Selain itu, kondisi topografi Kota Ambon sebagian besar daerah perbukitan dan berlereng terjang dengan kemiringan lerengnya lebih dari 20 persen.

“Serta kondisi curah hujan dari sedang sampai lebat juga mempengaruhi terjadinya bencana,” ungkap Wattimena.

Untuk itu, lanjut Wattimena, masyarakat di Ambon harus dilatih kesiapsiagaan tanggap bencana.

Salah satu caranya, yakni dengan meningkatkan kapasitas dari pemerintah agar dapat meminimalisir risiko dari bencana yang terjadi.

“Simulasi mekanisme tanggap darurat banjir dan tanah longsor merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bahaya yang dapat berujung bencana banjir dan tanah longsor sehingga sangat penting dilakukan,” kata Bodewin Wattimena.

Baca juga: Warga Batu Merah Ambon Ikut Simulasi Mekanisme Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor

Apalagi, lanjut Bodewin, ancaman bencana itu dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, maka diperlukan upaya-upaya kesiapsiagaan di dalamnya.

“Jadi, pengetahuan tentang kebencanaan harus menjadi bagian yang tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Dikatakan, kesiapsiagaan itu sendiri, tidak semata hanya pekerjaan rumah bagi instansi pemerintah yang berkewenangan guna menangani masalah kebencanaan.

Namun, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dipandang sebagai tugas bersama baik pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media yang merupakan pihak-pihak terkait yang bisa turut serta dalam penanggulangan bencana.

“Kesiapsiagaan haruslah dipandang juga sebagai upaya untuk mengurangi sekecil mungkin korban atau dampak yang ditimbulkan oleh bencana,” tandas Wattimena.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved