Breaking News:

Pedagang Mardika Diperas

Apa Itu Mosi Tidak Percaya yang Digaungkan HIPMI Maluku Tuk Azis Tunny Mundur dari Jabatannya

Mosi Tidak Percaya itu digaungkan HIPMI Maluku kepada Azis Tunny untuk mundur dari jabatan Ketua. Hal itu dilakukan lantaran Azis Tunny diduga telah m

Editor: Adjeng Hatalea
Kolase
Azis Tunny, orang dekat Gubernur Maluku yang diduga peras pedagang Pasar Mardika Ambon. 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Setidaknya ada lima poin Mosi Tidak Percaya yang disampaikan Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) se-Maluku, Senin (13/9/2022).

Mosi Tidak Percaya itu digaungkan HIPMI Maluku kepada Azis Tunny untuk mundur dari jabatan Ketua.

Hal itu dilakukan lantaran Azis Tunny diduga telah memeras pedagang di Pasar Mardika Ambon hingga ratusan juta rupiah.

Klarifikasi Azis Tunny juga dinilai BPC HIPMI Maluku sama sekali tidak melindungi citra dan martabat organisasi.

“Organisasi ini harus segera diselamatkan dalam waktu yang singkat-singkatnya karena kami jujur tadi kami ulangi bahwa kami di BPC di masing-masing kabupaten/kota cukup terganggu dan merasa imbas dari viralnya opini yang melibatkan kami,” ucap Ketua BPC HIPMI Buru Selatan (Bursel), Zulhano Souwakil melalui konferensi pers di Basnup Cafe Ambon, Senin (12/9/2022)

Sementara itu, kasus yang melibatkan Ketua HIPMI Maluku, Azis Tunny saat ini masuk tahap penyelidikan.

Penyelidikan oleh Polisi dilakukan menyusul adanya pelaporan aduan dari ketua External Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Ambon, Husein Marasabessy Kamis (8/9/2022) pukul 13.30 WIT di Mapolresta Ambon.

"Iya kasus tersebut dari Pengaduan ke Kasium dan sudah disposisi ke Reskrim untuk penyelidikan,'' ucap Ps Kasih Humas Polresta Pulau Ambon, Ipda Moyo Utomo di ruang kerjanya, Senin (12/9/2022) Siang.

Lanjut dikatakan, saat ini penyidik sudah periksa dua saksi, di antaranya Pelapor dalam Hal ini Ketua External PMII Kota Ambon Husein Marasabessy, dan si perekam Patrick Papilaya.

"Sabtu kemarin keduanya sudah diperiksa sebagai saksi," terangnya.

Moyo juga mengungkapkan, dalam waktu dekat ini juga Penyidik segera memanggil saksi-saksi yang lain yang terlibat dalam kasus ini termasuk Ketua HIPMI Maluku, Aziz Tunny.

"Nanti perkembangan dari kasus ini saya infokan lagi," tandasnya.

Apa itu Mosi Tidak Percaya

Istilah Mosi Tidak Percaya pada dasarnya tidak cukup jika diartikan secara harfiah.

Namun, jika merujuk pada KBBI, kata 'mosi' diartikan sebagai keputusan rapat, misal parlemen, yang menyatakan pendapat atau keinginan para anggota rapat.

Sementara itu, mosi tidak percaya diartikan dalam KBBI sebagai pernyataan tidak percaya dari DPR kepada kebijakan pemerintah.

Kapan istilah mosi tidak percaya dikenal?

Dari berbagai sumber dirangkum bahwa mosi tidak percaya alias motion of no confidence semula berakar dari tradisi politik di Parlemen Inggris.

Tradisi ini dimulai pada Maret 1782 setelah kekalahan pasukan Britania dalam Pertempuran Yorktown (1781) dalam Perang Revolusi Amerika, Parlemen Kerajaan Britania Raya memutuskan bahwa mereka "tidak lagi percaya kepada menteri saat itu". 

Perdana Menteri waktu itu, Lord North, menanggapinya dengan meminta Raja George III untuk menerima surat pengunduran dirinya.

Hal ini meskipun tidak secara langsung menciptakan konvensi konstitusional; namun, pada awal abad ke-19, percobaan oleh Perdana Menteri untuk memerintah dalam keadaan tanpa mayoritas parlemen terbukti tidak berhasil, dan pada pertengahan abad ke-19, kemampuan mosi tidak percaya untuk memecahkan pemerintahan dibentuk di Britania Raya.

Biasanya, ketika parlemen memutuskan tidak percaya, atau gagal memutuskan percaya, sebuah pemerintahan harus;

  1. mengundurkan diri, atau
  2. membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum.

Kasus Azis Tunny

Sebelumnya, beredar sebuah rekaman suara pengakuan seorang perwakilan pedagang di Pasar Mardika Ambon, Alham Valeo yang ditagih hingga ratusan juta rupiah oleh Azis Tuny.

Rekaman suara berdurasi 16 menit 26 detik itu memperdengarkan percakapan antara Alham Valeo alias Abang Al yang merupakan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Mardika Ambon (APMA) dengan seorang yang mengaku orang dekatnya Gubernur Maluku, Murad Ismail.

Al mengaku, Asiz Tuni berdalih akan menyetor uang tersebut ke Gubernur Maluku, Murad Ismail agar memberikan izin pembangunan lapak di atas trotoar.

Tak hanya itu, uang yang ditagih juga disebutkan, dipakai untuk keperluan pribadi, saat Azis tengah mengurusi pemilihan HIPMI.

, Azis Tunny membantah telah menagih uang ratusan juta rupiah dari pedagang Pasar Mardika Ambon.

Azis mengaku, dirinya tidak pernah mengatasnamakan Gubernur Maluku, Murad Ismail untuk menagih uang dari pedagang Pasar Mardika.

“Berita itu informasinya tidak benar dan fitnah, karena sebagai pribadi dan Ketum HIPMI Maluku, termasuk sebagai orang dekat Pak Gubernur, saya tidak pernah mengatasnamakan Bapak Gubernur untuk minta uang di pedagang Mardika,” ucap Azis melalui pesan WhatsApp ke TribunAmbon.com, Rabu (7/9/2022).

Menurut Azis, dia memiliki hubungan yang baik dengan para pedagang.

Bahkan, saat terjadi relokasi pedagang secara besar-besaran pun dia turut mengambil andil hingga para pedagang mendapatkan tempat yang layak untuk berjualan.

“Saya punya hubungan sangat baik dengan para pedagang Pasar Mardika, khususnya yang berhimpun di Asosiasi Pedagang Pasar Mardika Ambon (APMA). Sejak terjadi relokasi lebih dari 2000 pedagang saat Gedung Pasar Mardika Ambon direhabilitasi lewat dana APBN, saya ikut mengadvokasi para pedagang untuk mendapat tempat jualan yang layak,” sebutnya.

Azis juga meminta maaf kepada Gubernur Murad, dengan adanya pemberitaan yang telah menyeret nama orang nomor satu di Maluku itu.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved