Breaking News:

Nasional

Kemenkes: Varian Omicron Mengelabui Imunitas Tubuh dan Turunkan Efikasi Vaksin Covid-19

Nadia melanjutkan, varian baru ini pun menggabungkan beberapa mutasi dari varian of concern (VoC) virus Corona sebelumnya. Angka mutasinya di atas 30

Editor: Adjeng Hatalea
(SHUTTERSTOCK/natatravel)
Ilustrasi varian Omicron (B.1.1.529). Dokter di Afrika Selatan yang pertama kali menyadari ada varian baru Covid-19 mengatakan, gejala varian Omicron sangat ringan seperti infeksi virus umumnya.(SHUTTERSTOCK/natatravel) 

JAKARTA, TRIBUNAMBON.COM - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian baru virus Corona B.1.1.529 Omicron dapat mengelabui sistem imunitas manusia. Selain itu, varian ini juga dapat menurunkan efikasi vaksin Covid-19.

"Varian ini tidak meningkatkan keparahan, tetapi orang yang pernah terinfeksi Covid-19 akan lebih mudah meyebabkan terinfeksi dengan varian Omicron. Kemudian varian ini dapat mengelabui sistim imunitas dan menurukan efikasi vaksin," ujar Nadia dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (30/11/2021) dinihari.

Nadia melanjutkan, varian baru ini pun menggabungkan beberapa mutasi dari varian of concern (VoC) virus Corona sebelumnya.

Angka mutasinya di atas 30 sehingga lebih cepat menular dibandingkan virus corona varian Delta.

"Namun, semua identifikasi ini masih dalam kajian lebih lanjut," tutur Nadia.

Baca juga: Pfizer Mulai Racik Vaksin Covid-19 Khusus untuk Varian Omicron

Dia lantas menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia perlu sangat berhati-hati dengan varian Omicron.

Menurutnya, varian Delta sudah membuat kondisi pandemi di Indonesia memburuk pada Juli 2021.

Sehingga varian Omicron yang lebih infeksius menurutnya berpotensi memberi dampak yang lebih besar.

"Varian ini memiliki sifat berapa VoC lainnya sehingga kita harus waspada dan berhati-hati, mengingat varian Delta saja sudah sangat infeksius dan meyebakan lonjakan kasus dengan cepat," jelas Nadia.

"Menimbang kondisi itu kita harus tetap waspada untuk mencegah kemungkinan potensi lonjakan kasus ketiga dengan adanya bahaya varian baru maupun peningkatan mobilitas masyarakat," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Epidemiolog dari Griffifth University Australia, Dicky Budiman mengatakan, varian baru B.1.1.529 Omicron bukan sekedar baru, tapi juga ini berpotensi menjadi masalah besar bukan hanya Indonesia dan Afrika, tetapi dunia.

Sebab, meskipun gejala yang diakibat oleh infeksi varian baru ini disebut cukup ringan, kecepatan penularan mencapai lebih dari 500 persen atau 5 kali lipat dibandingkan dengan virus corona SARS-CoV-2 aslinya yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China 2019 lalu.

Dengan potensi penularan yang mencapai 500 persen tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikan varian Omicron ini ke dalam kategori VoC, tanpa melalui kategori variant of interest (VoI).

Untuk diketahui, variant of interest adalah varian SARS-CoV-2 yang ditandai dengan mutasi asam amino yang menyebabkan perubahan fenotipe virus, yang diketahui atau diprediksi dapat mengubah kondisi epidemiologi, antigeneistas, dan virulensi virus.

Sedangkan, variant of concern adalah varian virus corona yang menyebabkan peningkatan penularan dan angka kematian akibat Covid-19. VoC juga merupakan varian dengan dua komponen VoI.

Dicky mengatakan, varian B.1.1.529 Omicron ini masuk dalam kategori VoC karena penularannya mencapai 400 persen dibandingkan dengan variant of concern lainnya, yaitu varian delta.

"Kalau diibaratkan varian delta (yang sempat merebak beberapa waktu lalu) yang 100 persen kecepatannya lebih cepat menular daripada virus liar di Wuhan, ini kemungkinannya (varian baru) Omicron kecepatan penularannya bisa sampai 500 persen atau 5 kalinya," jelas Dicky.

(Kompas.com / Dian Erika Nugraheny / Dani Prabowo)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved