Breaking News:

Maluku Tengah

Rumah Baca Kapata Jadi Wadah untuk Perkaya Literasi Anak di Negeri Sawai - Maluku Tengah

Rumah Baca Kapata merupakan ruang yang diinisiasikan bersama kawan-kawannya pada 2018 silam itu diharapkan bisa merangkul anak-anak agar mereka bisa m

Penulis: Lukman Mukadar | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/Lukman
Rumah Baca Kapata di Negeri Sawai, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Lukman Mukaddar

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - Sebuah bangunan terapung di atas laut diperuntukan bagi siapa saja, terutama anak-anak usia sekolah yang ingin memperkaya literasi mereka.

Mengambil lokasi alam yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di Negeri Sawai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, seorang pemuda mencoba untuk membawa anak-anak di sana agar bisa menikmati suasana belajar seperti halnya aktivitas yang mereka jalani selama ini.

Ali Mukaddar alias Fabio, berawal dari kekhawatirannya terhadap situasi pendidikan di kampung halamannya, dia mencoba untuk merangkul anak-anak dalam sebuah wadah, dimana tidak membosankan apalagi menjauhkan mereka dengan rutinitas bercengkrama dengan alam.

Rumah Baca Kapata merupakan ruang yang diinisiasikan bersama kawan-kawannya pada 2018 silam itu diharapkan bisa merangkul anak-anak agar mereka bisa mendapatkan akses belajar di luar sekolah dengan mudah.

Suasana belajar di Rumah Baca Kapata, Negeri Sawai, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.
Suasana belajar di Rumah Baca Kapata, Negeri Sawai, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. (TribunAmbon.com/Lukman)

Fabio menuturkan, setiap kali pulang kampung di masa-masa kuliahnya, dirinya melihat hampir seluruh siswa SD hingga SMA di kampung halamannya itu hanya bermain tak tentu arah sepulang dari sekolah.

Dia tak ingin, situasi belajar dan memperkaya literasi hanya bisa dirasakan di lingkungan sekolah saja, melainkan kebiasaan itu bisa dibangun melalui aktivitas di luar sekolah, seperti lingkungan bermain.

Sampai akhirnya inisiatif untuk membuat sebuah taman baca didiskusikanya bersama kawan-kawannya.

Mereka kemudian menggalang buku-buku seadanya yang dimiliki.

"Saya dan beberapa teman kemudian mengumpulkan buku masing-masing, lalu kita mulai berpikir untuk membuat satu wadah begitu, jalan pun jalan akhirnya jadi seperti ini," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved