Breaking News:

Global

Warga Palestina Merasa Haknya Dirampas, Tuntut Kesepakatan AS dan UNRWA Dibatalkan

Warga Palestina di Jalur Gaza menuntut pembatalan kesepakatan kerja sama antara AS dan badan pengungsi Palestina, karena melanggar banyak hak mereka.

Editor: Adjeng Hatalea
(AP PHOTO/KHALIL HAMRA)
Warga Palestina pada Jumat (21/5/2021) mengibarkan bendera hijau Hamas sambil meneriakkan yel-yel merayakan gencatan senjata antara Israel dengan Hamas, setelah 11 hari konflik di Gaza.(AP PHOTO/KHALIL HAMRA) 

GAZA, TRIBUNAMBON.COM - Warga Palestina di Jalur Gaza menuntut pembatalan kesepakatan kerja sama antara AS dan badan pengungsi Palestina, karena melanggar banyak hak mereka.

Puluhan warga Palestina berunjuk rasa di depan markas Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Selasa (5/10/2021).

Melansir Al Jazeera pada Selasa (5/10/2021), warga Palestina tersebut menyerukan diakhirinya rencana kerja 2 tahun yang ditandatangani antara Departemen Luar Negeri AS dan UNRWA.

Mereka meneriakkan slogan-slogan yang mengatakan bahwa kerangka kerja tersebut AS dan UNRWA "membatalkan hak kembali bagi para pengungsi".

Para warga Palestina juga memegang spanduk bertuliskan, “Kami sepenuhnya menolak kesepakatan AS dan UNRWA”, dan “Hak untuk kembali konsisten.

Kami tidak akan menyerah.” Kerangka kerja sama AS dan UNRWA adalah kesepakatan yang ditandatangani antara kedua belah pihak untuk 2021-2022 yang menyerukan dimulainya kembali dana ke badan pengungsi, setelah dihentikan oleh pemerintahan mantan presiden AS Donald Trump.

Di bawah kerangka kerja yang ditandatangani pada Juli, Amerika Serikat membayar UNRWA 135 juta dollar AS (Rp 1,9 triliun) dana tambahan.

Kerangka kerja sama yang diprotes itu isinya, meliputi, "Tidak ada kontribusi dari AS yang akan diberikan kepada UNRWA, kecuali dengan syarat bahwa UNRWA mengambil semua tindakan yang mungkin untuk memastikan bahwa tidak ada bagian dari kontribusi AS, yang akan digunakan untuk memberikan bantuan kepada setiap pengungsi sebagai anggota UNRWA yang menerima pelatihan militer."

"(Pelatihan militer) yang disebut adalah Tentara Pembebasan Palestina atau organisasi tipe gerilya lainnya," lanjut keteterangan kerja sama tersebut.

Selain itu, disebutkan juga dalam kerangka kerja sam tersebut bahwa bantuan AS juga tidak akan diberikan kepada pengungsi Palestina yang telah terlibat dalam aksi terorisme.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved